Saya tau, sebenernya kelulusan itu bukan sesuatu yang harusnya dibangga-banggakan sampai berlarut-larut. Saya juga sadar, sebenernya kelulusan itu cuma sesuatu yang harusnya bikin saya prihatin. Saya, secara nggak langsung (atau secara langsung?), menambah angka pengangguran di negeri ini. Saya nggak sepenuhnya menganggur sih, setengah menganggur lebih tepatnya. Saya terhitung masih merupakan pekerja paruh waktu di kantor saya sekarang, itu yang bikin hitungannya jadi setengah menganggur. Kerja sebagai part-timer nggak sepenuhnya salah, saya masih bisa menikmati waktu luang dan saya masih dapat upah yang setimpal.
Kakak saya yang akhir-akhir ini jadi rewel masalah pekerjaan, nyuruh saya langganan newsletter dari situs lowongan kerja lah, ngajak saya pindah ke Jakarta lah, dan masih banyak lagi nasihat-nasihat lain yang nggak bisa saya sebutin saking annoying-nya. Kakak saya nggak salah sih, saya juga masih nggak tau jalan yang kayak apa yang mau saya ambil. Apakah saya masih bakal tetap di Jogja dan menyelesaikan kontrak dengan kantor yang sekarang, atau mengambil pekerjaan yang lebih besar dan settle. Saya nggak mau terlalu idealis untuk nggak menginjakkan kaki di ibu kota, tapi saya masih kerja keras untuk mencari peluang di kota lain yang baru. Fresh start.
Teman saya ada yang memutuskan untuk kuliah lagi, sebagian besar sudah berpekerjaan. Sebagian masih belum menyelesaikan skripsinya, sebagian lagi masih mencari peluang pekerjaan seperti saya. Saya, sejujurnya, pengen punya usaha sendiri, pengen punya uang yang saya hasilkan dari bekerja untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Saya ingin menciptakan lapangan bisnis. Teman saya sudah memulai, bahkan dia lebih muda daripada saya, dan saya ingin ikut jejaknya. Saya butuh modal, dalam jumlah yang nggak sedikit.
I'm still composing my future...
No comments:
Post a Comment