18/05/2026

Nggak Semua Orang Harus Suka Sama Kita, dan Itu Normal

Ada yang bilang kalau kita nggak bisa bikin semua orang senang, kalau dalam Bahasa Inggris: we can't please everyone. Statement itu jadi salah satu yang saya percayai banget sampai sekarang, jadi pegangan hidup lah istilahnya, karena kita emang nggak bisa membuat semua orang senang, nyaman dengan kehadiran kita, bahkan saya bisa bilang kalau nggak semua orang mau jadi teman kita. 

Salah satu teman juga bilang, kalau ngotot mau disukai banyak orang, yang ada nanti kita capek sendiri. Dia juga bilang, hal itu mustahil terjadi.

Terus saya ngebayangin, gimana kalo yang nggak suka ke kita tuh atasan kita sendiri di kantor? Ujungnya bisa beragam. Bisa jadi kita bakal jadi bulan-bulanan pas kerjaan nggak beres, nggak banyak di-acknowledge alias dicuekin, mungkin bisa sampai 'di-anak-tiri-kan' walaupun nggak semua anak tiri nasibnya jelek. Paling parah sih nggak dianggap sama sekali ya, jadi invisible aja gitu di kantor dan cuma ada di sana karena kewajiban bukan keinginan.

Di sepanjang hidup saya, saya tahu (dan untungnya sadar diri), ada beberapa orang yang nggak suka sama saya as a person. I don't blame them, I'm not for everyone (anjay terkesan sombong). Ada beberapa orang yang mungkin nggak suka sama gaya saya bercanda, ada yang nggak suka karena nggak nyambung pas ngobrol, atau nggak suka karena benci aja gitu. 

Yang terakhir alasannya valid lho, kadang kita suka nggak 'klop' sama seseorang ya karena vibes-nya nggak nyambung aja, nggak ada chemistry. Jadi, seperti cinta, benci itu juga kadang bisa tanpa alasan. 

Kita nggak bisa maksa orang buat suka sama kita dan begitu juga sebaliknya. Kita nggak bisa berteman dengan semua orang meski kita dianggap sebagai seorang social butterfly sekalipun. Makanya sekarang saya udah nggak terlalu baper kalo emang nggak bisa masuk ke circle tertentu, atau nggak bisa nyambung ngobrol sama orang lain, atau nggak bisa akrab sama orang-orang tertentu. Keeping my circle small, teman yang itu-itu aja nggak buruk kok, malah kita jadi tau prioritas dan mana yang stick to our side.

02/09/2025

Long Distance Friends

Jadi ceritanya ada temen yang baru aja dapet offering untuk kerja di luar negeri, setelah sejak beberapa tahun yang lalu dia udah mengusahakan buat pindah ke luar negeri, akhirnya kesempatan itu dateng juga. I am genuinely happy buat dia, akhirnya apa yang dia usahakan dan dia impikan tercapai, dan tentunya terlepas dari beban pekerjaan yang nggak dia suka.

Di sisi lain saya agak sedih, karena akan ditinggal jauh sama salah satu temen deket. Temen dari jaman kuliah di Jogja, temen main kesana-kemari keluar kota, temen sambat sama hidup yang gitu-gitu aja, temen baik yang akhirnya bisa buka lembaran baru, lembaran yang semoga lebih indah dari yang sebelumnya.

Sekitar tahun 2021 saya juga melepas teman untuk pindah ke luar negeri, ikut suaminya. Sebelumnya, saya lupa tahun berapa, saya juga melepas teman untuk merantau. Pasti bukan pilihan yang mudah untuk pindah, meninggalkan semua yang akrab di telinga kita untuk sesuatu yang belum tentu kita suka. Tapi dewasa bukan hanya soal suka atau tidak, tapi soal bagaimana mendapatkan kehidupan yang lebih baik ketika yang dimiliki sekarang tak sesuai dengan hati nurani. Adaptasi itu masalah gampang, manusia akan bisa menyesuaikan diri bagaimanapun situasinya, kecuali memang takdir yang berkata lain.

Mungkin saya nggak suka perpisahan. Ada hal sendu yang nggak bisa diungkapkan pas kita berpisah dengan orang-orang yang sering kita temui, apalagi selalu ada sehari-hari. Saya tahu kami akan bertemu kembali, meski nggak bisa memperkirakan kapan hal itu akan terjadi.

Kepada teman-teman baikku yang saat ini sedang jauh, I miss you! Untuk teman baikku yang akan memulai petualangannya di tanah yang baru, good luck and I will be missing you!

26/05/2025

When You Want Something So Bad, But The Time Isn't Right... Yet!

Kita pasti sering denger "expectation kills" atau "if you don's expect something, you don't get disappointed" dan lain sebagainya. Emang bener, manusia harusnya cuma bikin rencana dan berupaya. Hasilnya gak perlu dipikirin, apalagi dipusingin. Saya ingin hal itu yang terjadi tiap kali saya kirim lamaran kerja, ya berusaha bikin lamaran sebaik mungkin aja, kalo dipanggil ya syukur, enggak juga gak papa. Tapi, saya cuma manusia biasa yang sekarang lagi harap-harap cemas. Umur udah nggak lagi muda tapi baru aja kehilangan pekerjaan, jadi mau-gak mau saya berekspektasi meski seringnya kecewa sendiri.

Ada lagi kata-kata yang nancep di pikiran adalah "rumput tetangga lebih hijau" atau "it's hard to see someone else living your dream". I really want a great job which pays me very well, punya uang yang cukup hingga bisa afford semua keinginan saya yang belum bisa kesampaian. Saya juga pengen kerja di luar negeri, di perusahaan yang bagus, atau kuliah lagi di luar negeri, punya pendidikan lebih tinggi. Tapi kayaknya semua keinginan saya bagai berada di langit yang tinggi, sementara saya ada di tanah dan nggak punya kemampuan buat terbang. 

Lalu ada kalimat "everything takes time" atau "semua indah pada waktunya". Mau percaya tapi tagihan cicilan terus jalan, nggak peduli kitanya ada pemasukan apa enggak. I need that indah now, I want the time to be fast-forwarded. 


Mungkin ada benernya kalo lagi gak ada kerjaan gini, carilah kerjaan itu sendiri. Kesibukan, maksudnya. Biar otak dan pikiran nggak random kemana-mana dan biar nggak kebanyakan ngelamun. Kesibukannya juga bukan nongkrong sana-sini dan nge-mall, karena yang ada bakal lebih banyak pengeluaran daripada manfaatnya. Kemarin jalan ke mall niatnya cuma makan siang di luar sama Ibu, ending-nya belanja dua buku di TM Bookstore. Kayak nggak ada buku yang belom dibaca di rumah aja tuh.

Beli sepatu sama baju olahraganya udah, tinggal niat olahraganya yang belom 'nendang'. Pikiran buat daftar gym udah ada, tapi trauma sama kisah 'jadi donatur' di dua membership sebelumnya. Beli walkpad bukan pilihan ya, soalnya mahal. Tapi membership gym juga jutaan sih. Ah bingung!

10/05/2025

Toxic Positivity(?)

Banyak orang kasih semangat setelah saya kena pengurangan karyawan, banyak yang kasih ucapan penuh dukungan supaya saya nggak putus asa pas kontrak kerja saya nggak diperpanjang, saya berterima kasih tapi sungguh sulit buat melakukan itu semua. Susah buat optimis dan berpikir positif. Saya lahir dan besar di keluarga yang nggak pernah mengajarkan saya buat jadi wirausahawan, begitu lulus dari pendidikan formal ya selanjutnya jadi karyawan, kerja di dunia formal. 

Jadi, ketika setelah selama lebih dari 10 tahun saya sibuk memeras tenaga dan otak untuk bekerja, lalu semuanya berhenti secara tiba-tiba, saya kayak kehilangan motor yang bikin saya bergerak selama ini. Okelah selama beberapa minggu awal saya bisa bersantai, menikmati masa idle dengan baik, setelahnya saya mulai digerogoti kecemasan.

Dalam hati dan pikiran yang nggak karuan, saya bertanya-tanya ada rencana apa dari kondisi saya saat ini? Apa yang bakal terjadi di masa depan? Satu bulan lagi? Satu tahun lagi? Sampai kapan saya harus menunggu? Puluhan, kalau nggak mau dibilang ratusan lamaran sudah saya kirim, tapi jawaban yang saya terima adalah penolakan, sisanya nggak ada kabar lanjutan. Kalau emang takdir saya bukan jadi karyawan lagi, jalan hidup yang kayak gimana yang bakal saya hadapi?

Beruntung masih punya teman-teman yang baik hati, masih mau kasih semangat dan afirmasi. Beberapa kasih informasi soal lowongan yang mereka tahu, tapi ya cuma bisa membantu sebatas itu, akhirnya balik lagi nasib yang menentukan.

Saya kira saya bisa mengalihkan semua pikiran dan tekanan ini dengan nonton bermacam-macam film atau series, tapi ternyata semua itu hiburan sesaat aja. Setelah selesai ya balik lagi bengong, meratapi nasib. Dalam sehari mungkin saya bisa kirim 3 sampai 5 lamaran, bahkan pernah 7 lamaran dalam sehari. Nggak capek kok, lha wong cuma tinggal klik-klik kirim sana-sini, cuma lama-kelamaan jadi rutinitas yang hasilnya belom bisa keliatan.

Selain berusaha buat terus-terusan cari kerja, salah satu cara yang menurut saya efektif untuk mengalihkan pikiran biar bisa terus waras adalah dengan menulis. Ini juga salah satu saran dari teman sih, katanya journaling mungkin bisa jadi pilihan biar nggak tambah stress, dan ternyata mujarab juga. Mungkin nggak seluruhnya terangkat ya, karena di hati ini masih ada yang mengganjal rasanya, tapi setidaknya apa yang ada di pikiran bisa tersalurkan.

09/05/2025

Socially in Accordance

In love with Miley Cyrus' single "End of the World". Pas dengerin lagunya kayak kena ke suasana hati dan kondisi kehidupan akhir-akhir ini.

Ngomong-ngomong soal akhir-akhir ini, sejak komputer lama saya hidup lagi (dan upgraded supaya bisa main Genshin Impact!), saya jadi punya akses ke foto-foto lama saya yang ternyata tersimpan dengan rapi dan teratur. Thanks to my late father yang udah keeping the files sedemikian rupa, sehingga sekarang saya bisa buka folder-folder lama dan tersadar bahwa dulu saya ekspresif banget. Saya suka foto-foto dan bikin video, dan menonton semuanya kembali bikin saya heran, ke mana perginya saya yang dulu?

Terus saya liat juga folder isi foto-foto jaman saya baru-barunya punya handphone berkamera, dari SMA sampai kuliah ternyata banyak banget foto yang saya hasilkan. Mulai dari selfie, foto grup, foto pemandangan, foto-foto gak jelas dan random, semuanya ada. Bahkan mengabadikan moment lewat video tuh bukan hal yang jarang. Mungkin karena kebaruan teknologi saat itu ya, jadi saya rajin foto sana-sini dan rekam video ini-itu. 

Apalagi sejak munculnya Friendster yang kemudian disusul dengan Facebook, kebiasaan upload foto-foto terkini jadi motor tersendiri yang bikin saya makin rajin jeprat-jepret. Waktu masih kuliah kan banyak tuh kegiatannya, ya nongkrong, ya organisasi, ya ikut kelas, banyak lah foto-fotonya.

Tapi lama kelamaan saya jadi malas berinteraksi sama media sosial, upload foto kalo habis liburan aja, bikin video kalo habis jalan-jalan, update status juga kalo ada yang menarik atau lucu. Saya jadi membatasi diri soal apa yang mau saya share di media sosial. Bagus sih, jadi nggak terlalu mengumbar masalah pribadi. Tapi namanya media sosial kan bebas aja ya, gimana yang punya akun, terserah yang punya password. Jadi kayaknya saya bakal lebih memanfaatkan media sosial sebagaimana mestinya: jadi ruang buat mencurahkan isi pikiran dan hati saya.

Kata temen, ya memang itu fungsinya media sosial. Kalo nggak nyaman pake akun sendiri, bisa bikin akun lagi buat nyampah di sana. Cuma, saya gak mau mubazir. Akun yang ada aja lah saya pake buat bikin celotehan. Bikin cerpen sekalian juga gapapa, bebas, suka-suka saya. Daripada makan ati sama memendam stress berlebihan, malah jadinya saya yang gila.