12/05/2020

31 Hari Menulis: Baru Mulai tapi Udah Longgar

Selamat hari Selasa!

Hari ini jadwal terakhir kerja, besok dan lusa libur, baru deh masuk lagi hari Jumat. Skema 3 hari masuk 2 hari libur lumayan bikin libur saya jadi tambah banyak, yang artinya lebih banyak waktu luang. Tapi, serius deh, KRL dua hari ini makin rame sama penumpang. Kayaknya udah nggak pada kerja dari rumah, makin padet stasiunnya, nggak kaget sih kalau beberapa hari ke depan kereta Jabodetabek bisa lebih rame daripada hari-hari pertama work from home. Entah juga corona di Indonesia bakal cepet teratasi seperti apa yang diminta Presiden atau enggak, mengingat kurva yang saat ini dimiliki oleh pemerintah bukanlah kurva riil seperti apa yang terjadi di lapangan. Sulit setuju sama apa yang dibilang Gugus Tugas sebagai 'kurva melandai' atau 'jumlah pasien rawat inap menurun'. Well, yang terakhir bisa dipastikan valid, sih, karena kan kalau pasien yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19 berkurang, pastilah presentase jumlah pasien yang masih dirawat akan menurun. Tapi bukan itu acuan dari penanganan yang baik dari sebuah penyakit, menurut saya. Acuan yang baik adalah penyebarannya yang menurun, bukan jumlah penderitanya.

Hari ini Gubernur Sumatera Barat bilang kalau di daerahnya udah nggak ada lagi imported case, yang mana jadi sumber utama penyebaran COVID-19 di Sumbar. Hal ini, menurut Irwan Prayitno, adalah karena diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar atau singkatan gaulnya PSBB. Bahkan Irwan berani bilang kalau ada beberapa daerahnya yang bisa dikategorikan 'bersih' dari virus corona, dan akan melonggarkan PSBB di daerah-daerah tersebut (tentunya dengan uji klinis dan penelitian lebih lanjut). Ini kabar baik, meski saya baru denger dari pemangku jabatannya aja, belom tau gimana kondisi langsung di Sumbar. Tapi menurut saya sebaiknya tidak terburu-buru melakukan pelonggaran PSBB meski suatu daerah sudah dinyatakan terbebas dari penyebaran sebuah virus, karena kita nggak pernah tau bagaimana dan kemana virus itu berjalan, dia bisa aja nggak terdeteksi hari ini tapi kemudian ternyata baru ketahuan dua hari kemudian.

Ini juga yang jadi kecemasan saya tinggal di Jakarta dan masih pulang-pergi untuk kerja naik kendaraan umum. Jakarta sejak seminggu yang lalu udah mulai rame lagi, banyak perusahaan yang membuka kembali kantornya dan membuat mobilitas para pekerja perlahan-lahan kembali normal. Kurva penderita COVID-19 yang nggak riil dan dikatakan 'menurun' bikin muncul wacana pelonggaran PSBB. Orang-orang yang berusia di bawah 45 tahun diperbolehkan bekerja dengan syarat-syarat tertentu, terus operasional kendaraan umum juga mau dinormalisasi secara bertahap. Bener kata temen wartawan Mbak Nina, laju penurunan kasus positif masih bervariasi, sementara pengujian spesimen masih belum optimal, pemerintah kesannya terburu-buru mengkaji pelonggaran PSBB dan berharap bulan Juli bisa mulai melonggarkan PSBB.

Gugus Tugas nggak bilang kalau PSBB di Jakarta yang bakal dilonggarin, tapi nggak menyatakan juga daerah mana yang PSBB-nya bakal dilonggarin. Mungkin daerah yang kasusnya udah nggak bertambah kayak Sumbar, tapi hal ini masih harus ditanyakan lebih lanjut. Doni Monardo bilang, pelonggaran PSBB masih dalam tahap rencana, tapi prakteknya udah terasa (paling tidak) selama 2 hari belakangan ini saya bepergian naik KRL. Gerbong-gerbong cenderung lebih padat kalau dibandingkan dengan awal masa work from home, bahkan penumpangnya udah rebutan tempat duduk pas masuk ke gerbong selayaknya hari-hari kerja biasa pas nggak ada corona. Saya berharap, selama negara ini belum punya kurva yang riil untuk memantau penyebaran COVID-19 di tanah air, jangan sampai pemerintah mengambil kesimpulan penyebarannya sudah masuk ke tahap sedang apalagi ringan. Masih jauh dari semua itu. Kurva riil memang hampir mustahil bisa dibikin di negara sebesar dan seluar Indonesia yang berbentuk kepulauan, tapi jangan sampai memakai data yang tidak semestinya untuk mengukur suatu hal yang serius seperti penyakit yang bisa membahayakan nyawa orang.

Sekian tulisan saya yang berlatarbelakangkan kecemasan sama kondisi negeri ini ketika berhadapan dengan pandemi. Meski negara ini sebelumnya tidak punya pengalaman dalam menghadapi pandemi sebesar sekarang ini, tapi saya masik menaruh keyakinan kalau pemerintah bisa mengambil langkah-langkah yang bisa dipertanggungjawabkan dan tidak blunder untuk mengenyahkan corona dari Indonesia. Semoga.

P.S.
Berikut ada video rekaman dialog dengan pakar kesehatan masyarakat University of Derby, sampe dia emosi sendiri ngomongnya tapi saya sependapat. Hehehe.

No comments:

Post a Comment