Ngomong-ngomong, beberapa hari yang lalu saya nemu kartun favorit yang ternyata tayang di Netflix. Betapa bahagianya saya pas tau kalo saya bisa streaming Cardcaptor Sakura! Jaman dulu, pas saya masih SMP, saya nggak bisa nonton Sakura karena dia tayang di TPI (waktu saya SMP, saya tinggal di Jogja dan waktu itu TPI belom sampe ke Jogja). Saya inget banget, pas saya liburan sekeluarga di Jakarta, pada saat itulah saya pertama kali nonton Cardcaptor Sakura di televisi, tayangnya sore, terus saya agak sedih gitu pas balik ke Jogja karena itu artinya saya nggak bisa nonton Sakura lagi.
Balik lagi ke jaman saya SD sampai SMA, saya tumbuh sebagai anak yang suka baca komik Jepang, suka gambar dan suka sama segala sesuatu yang berbau Jepang. Saya sempet pengen belajar Bahasa Jepang, tapi malah ikut les Bahas Perancis (yang cuma bertahan 2 level aja, by the way). Saya juga sempet dateng ke festival kebudayaan Jepang yang diselenggarakan di Jogja, meski cuma beberapa kali. Saya sering beli majalah Animonster, majalah yang mengulas soal anime Jepang terbaru dan populer, meski seringnya cuma saya lihat gambar-gambarnya aja. Majalahnya lumayan mahal, berdasarkan informasi dari forum Kaskus, sekarang kayaknya udah nggak terbit lagi majalahnya.
Meski suka gambar dan sering ikut lomba melukis, saya bisa dibilang bukan anak yang sangat berbakat dalam menggambar. Saya jarang dapat gelar juara, mungkin karena saya cuma sekedar bisa aja tanpa ada pelatihan lanjutan yang bisa bikin lukisan atau gambar saya jadi makin bagus. Terbukti, sekarang kayaknya bakat itu terkubur, meski masih bisa bikin kepala manusia ala komik Jepang, saya masih nggak bisa menggambar manusia utuh secara proporsional. Apalagi gambar yang disertai background komplit penuh warna. Kadang pengen gambar lagi, pengen menghidupkan lagi hobi lama. Tempo hari impulsif beli buku gambar sama pensil, tapi baru 2 gambar yang saya bikin. Dua-duanya jelek pula, nggak mencerminkan hasil gambar orang yang punya bakat. 😂
Selain anime dan komik, saya juga suka lagu-lagu dari Jepang. Saya suka dengerin program radio di Jogja yang muterin lagu-lagu berbahasa Jepang. Sebelum Kpop mendunia, ada masanya Jpop mendominasi airplay radio lokal pada saat itu. Kebanyakan lagu yang saya denger adalah lagu yang juga jadi soundtrack dari anime populer. Soundtrack-nya Inu Yasha, Samurai X, atau bahkan soundtrack dari drama Jepang tahun 90-an.
Tulisan ini saya tutup dengan satu lagu yang jadi favorit saya (Fukai Mori by Do As Infinity) jaman ngikutin anime dan Inu Yasha, yang liriknya sebagai berikut jika diterjemahkan ke Bahasa Inggris:
I'm sure that the heart I left behind still lies hidden in the heart of the deep, deep forest.
Exhausted, without the strength to search, people vanish into the infinite darkness.
If it's so small, I wonderIf I can see it even now?
As we live on, we lose a little bit more. Shrouded in falsehoods and lies, we stand frozen to the spot, unable to cry out.
The days pass by and change, without us even realizing how blue the sky really is.
Overcoming that made-up scheme, we live the present, and our rusted hearts begin to beat again.
If we can find the rhythm of time, we can fly once again.
We live our lives, wandering to the ends of the earth. Believing in you, now I begin my journey with you, in search of the light.
As we live on, we lose a little bit more. Shrouded in falsehoods and lies, we stand frozen to the spot, unable to cry out.
We live our lives, wandering to the ends of the earth. Closing off the way back, we walk on for eternity.
We live our lives standing frozen to the spot, unable to cry out, for eternity.
Lirik saya ambil dari sini.


No comments:
Post a Comment