Setelah Sidang Isbat dilaksanakan, pemerintah memutuskan bahwa Idul Fitri 1441 H jatuh pada tanggal 24 Mei 2020. Udah resmi nih ye Lebaran hari Minggu. Udah resmi juga tahun ini jadi Lebaran saya yang ke-5 di Jakarta.
Meski masih jadi ajang kumpul keluarga, makin ke sini yang namanya Lebaran makin terasa santai dalam artian nggak ada excitement berlebihan dalam menyambutnya. Jaman saya masih kecil antara usia SD sampe SMA, saya selalu seneng suasana Ramadan dan menjelang Idul Fitri. Mudik jadi bagian favorit saya.
Pada saat itu, keluarga saya jadi satu-satunya keluarga yang tinggal di Yogyakarta, otomatis kami sekeluarga yang selalu mudik untuk bertemu keluarga besar. Tujuan mudiknya ke Indramayu dan ke Jakarta, kami selalu naik bus malam hingga akhirnya Ayah punya kendaraan pribadi yang layak untuk perjalanan jauh.
Idul Fitri pada saat saya masih kecil diisi dengan kumpul keluarga inti, baru habis itu keliling kampung di Indramayu untuk berkunjung ke keluarga besar yang sekarang saya nggak bisa inget satu per satu, maaf-maafan dan ngumpulin duit salam tempel. Ada acara nyekar juga ke makam kakek dan nenek saya, terus setelahnya diisi dengan jajan, jajan dan jajan.
Mulai dari makanan lokal kayak rumbah (semacam pecel yang bumbunya pedes minta ampun), bakso, sampai jajan mainan dari duit hasil salam tempel. Saya inget pernah beli mainan Kesatria Baja Hitam yang kemudian jadi mainan favorit, sampai akhirnya rusak karena kakinya putus sebelah dan hilang entah kemana.
Semakin saya dewasa, excitement soal Lebaran jadi berkurang. Bukannya nggak bermakna lho ya, tapi tradisi mudik udah nggak ada lagi. Kalau nggak salah, pertama kalinya saya Idul Fitri di Jogja tanpa mudik adalah pada saat saya masih kuliah. Saya inget siangnya saya kerja (siaran di radio) karena saya nggak ada kegiatan lain. Ya gimana mau ada kegiatan? Lha wong semua saudara ada di Indramayu dan di Jakarta! Lebaran di Jogja buat keluarga saya ya jadi hari libur biasa aja.
Sekarang, saat saya, orangtua dan kakak saya udah hengkang dari Jogja, Lebaran jadi lebih praktis. Meski nggak ada aktivitas mudik jarak jauh, nggak ada suasana sepi kayak pas Lebaran di Jogja. Keluarga dari Jakarta (keluarga besar ibu saya) kadang mampir ke rumah untuk silaturahmi, begitu juga keluarga dari Indramayu (keluarga ayah saya). Ngobrol, makan, ngobrol, makan, gitu terus sampe nggak sadar kalo udah ngabisin kastengel setoples.
Saya bersyukur punya kenangan manis soal Lebaran, kenangan mudik menjelang Idul Fitri yang nggak bakal saya lupakan. Jalan-jalan ke pantai, naik becak keliling kampung, atau sekedar ke sawah deket rumah saudara saya di Indramayu. Kenangan piknik ke Ragunan pas libur Lebaran, makan semur jengkol masakan almarhumah nenek saya, dan banyak kenangan lainnya yang nggak mungkin bisa diulangi.
💚
No comments:
Post a Comment