31 Hari Menulis yang akhirnya cuma saya jalani selama 20 sekian hari, plus hari terakhir ini. Karena beberapa hari yang lalu, setelah saya menulis tulisan terakhir sebelum tulisan ini, saya jatuh sakit dan kemudian dilanda penyakit lupa dan malas. Akhirnya, baru sekarang kembali ikutan di 31 Hari Menulis yang berakhir di hari ini.
Di hari ini juga saya memperingati keberangkatan saya untuk liputan ke Singapura, liputan yang nggak bisa saya lupakan. Selain karena momentumnya, liputan saya di Singapura adalah liputan panjang yang saya lakukan hanya berdua dengan camera person. Biasanya, liputan panjang akan dilakukan oleh tim yang anggotanya lebih dari 2 orang, tapi karena ini berlokasi di luar negeri jadilah saya 'berjibaku' dengan Roy Ilman selama hampir 20 jam untuk liputan khusus berpulangnya Ibu Ani Yudhoyono.
Kembali ke tanggal 30 Mei 2019 malam hari, saya dihubungi kantor untuk menyiapkan perlengkapan berangkat ke Singapura. Atasan saya waktu itu bilang, kondisi Ibu Ani mengalami penurunan. Saya menyanggupi tugas dan menyiapkan perlengkapan untuk dinas, meski saya nggak tau bakal berapa lama saya di Singapura. Akhirnya saya pakai feeling aja, dengan pikiran positif kalau liputan saya bakal jadi liputan panjang yang makan waktu beberapa hari, mengikuti kondisi kesehatan Ibu Ani waktu itu.
Esoknya saya berangkat ke Singapura, siang hari kalau nggak salah, soalnya nyampe Singapura udah gelap dan langsung menuju ke rumah sakit (atau mungkin ke hotel dulu? Entahlah, detail ini agak samar di memori saya). Nggak butuh waktu lama untuk menempuh perjalanan ke National University Hospital (NUH), sesampainya di rumah sakit saya langsung ketemu sama beberapa jurnalis dari Indonesia yang juga ditugasin buat meliput. Saya sadar saat itu, kondisinya semakin serius.
Setelah live report di program tengah malam, saya dan Roy (camera person yang dinas bareng pada saat itu) menuju hotel untuk istirahat. Sayangnya, saya nggak bisa tidur sama sekali. Entah karena masih emosi setelah debat sama resepsionis soal pembatalan pemesanan kamar, atau karena deg-degan untuk liputan pagi harinya. Yang jelas, saya terjaga sepanjang malam, sampai akhirnya alarm sahur Roy bunyi. Iya, waktu itu Bulan Ramadan.
Saya dan Roy check out dari hotel, pindah ke hotel lain yang lebih jauh jaraknya dari NUH (yang sebenernya nggak masalah, karena mana ada macet kayak Jakarta sih di Singapura?), nitip barang ke resepsionis karena belum bisa check in, live pagi di deket hotel, baru deh habis itu menuju ke NUH. Sesampainya di rumah sakit, suasana tampak biasa-biasa aja selayaknya rumah sakit yang dikunjungi banyak orang. Dokter, pasien, pengunjung tampak berbaur dalam arus keramaian yang biasa. Saya dan beberapa teman jurnalis standby di kafetaria di dekat jalan masuk menuju ruang rawat Ibu Ani waktu itu.
Liputan di NUH berjalan santai di pagi sampai menjelang siang, menjelang jam 11 suasana makin menggelisahkan karena beberapa tokoh nasional dan politisi Partai Demokrat mulai berdatangan. Saya juga dapat kabar nggak mengenakkan dari kantor kalau kondisi Ibu Ani semakin menurun, akhirnya saya memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke dr. Terawan untuk meminta keterangan. Dokter Terawan adalah salah satu anggota tim dokter kepresidenan yang ikut merawat Ibu Ani. Pada awalnya pesan nggak dibales, sampai akhirnya sekitar jam 12 siang waktu Singapura kabar duka itu masuk ke WhatsApp saya, Ibu Ani Yudhoyono meninggal dunia.
Hati saya anjlok, saya ingat waktu itu saya butuh waktu untuk memproses, tapi informasi harus segera diteruskan.
Liputan yang tadinya saya kira bakal panjang dan makan waktu beberapa hari mendadak berubah menjadi panjang namun hanya makan waktu satu hari. Secara marathon saya mewawancara banyak orang terkait wafatnya Ibu Ani, mulai dari besan keluarga Yudhoyono sampai menteri dari masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. Lokasi peliputan juga pindah, dari NUH ke Kedutaan Besar Indonesia untuk Singapura yang menjadi lokasi sementara sebelum jenazah Ibu Ani dibawa pulang ke tanah air.
Semua berjalan serba cepat. Semua berlangsung sejak siang hari di rumah sakit, sampai malam hari di kantor kedutaan besar. Saya baru bisa benar-benar nyender ketika jenazah sudah dibawa ke pangkalan udara, untuk kemudian diterbangkan ke Indonesia. Liputan di Singapura selesai dalam waktu 1 hari, makan waktu dari pagi sampai malam. Mulai dari keringetan, kering, lalu keringetan lagi, lalu kering lagi tuh baju yang saya pakai hari itu. Menyesal nggak bawa baju ganti, tapi puas sama kerjasama yang saya bangun bareng Roy untuk menghasilkan produk berita yang bagus.
Begitulah salah satu pengalaman jurnalistik saya yang nggak bakal saya lupakan. Menjadi cerita penutup yang saya bagikan untuk hari terakhir dari 31 Hari Menulis yang nggak saya ikuti dengan baik. Semoga setelah ini masih banyak lagi tulisan lain yang akan terbit di blog ini, supaya sirkulasi pikiran di otak saya lancar dan semakin berkembang.
No comments:
Post a Comment