18/05/2020

31 Hari Menulis: A Post About Handling Insecurities

Sambil baca tulisan berikut, ada baiknya sambil dengerin lagu ini:


Meski menurut saya udah terlalu banyak tulisan saya yang mood-nya sendu, entah soal cinta ataupun soal kekhawatiran diri sendiri, saya masih pengen menuangkan sebuah tulisan soal ketidakpercayaan diri yang saya alami dan bagaimana akhirnya semua itu teratasi tertutupi. Semuanya berawal cuma karena penampilan saya yang saya anggap nggak menarik, jauh dari kata ganteng. Growing up, I was a very insecure boy with so many issues regarding my appearance. I thought that I was too tall for my age and my skin was too dark. Hidung saya nggak bangir, kulit muka saya cenderung berminyak ketika saya usia remaja. Pasti kamu yang baca tulisan ini juga (paling enggak satu kali) pernah memberi kritik pada bagian tubuh tertentu yang kamu punya (kalau nggak mau dibilang membenci).

Ternyata, semua itu ada ilmunya, ada penyebabnya, dan bisa dikategorikan sebagai penyakit mental kalau dibiarkan menjadi parah. Menurut artikel yang saya baca di Vice, ada orang-orang di luar sana yang terobsesi dengan kekurangan fisik yang mereka miliki bahkan hingga memicu depresi—atau yang paling ekstrem adalah bunuh diri. Saya pernah termasuk ke dalam golongan orang yang terobsesi sama kekurangan fisik yang saya miliki. Saya benci sama kulit wajah saya nggak mulus, warna nggak rata, nggak glowing, dan saya juga benci sama berat badan saya yang nggak ideal. Ada kalanya semua itu masuk ke tahapan mengkhawatirkan, ketika saya getol ngeborong produk-produk pencerah wajah demi membuat penampilan saya membaik. Ternyata nggak ngaruh banyak juga.

Saya juga sempat menyalurkan ketidaksukaan saya dengan penampilan yang saya punya melalui Photoshop. Semua foto yang saya unggah ke Friendster pada masa itu nggak ada yang nggak diedit dulu, seenggaknya bikin saya jadi keliatan lebih menarik meski itu menurut pendapat saya sendiri. Tapi lama kelamaan saya capek sendiri, secara nggak sadar saya makan banyak tenaga untuk 'mengubah' penampilan saya meski hanya sebatas produk digital aja. Saya perlahan-lahan mengalihkan pikiran saya dari ketidaksukaan terhadap penampilan saya sendiri, ke hal-hal yang lebih bermanfaat seperti berteman dengan orang banyak.

Meski nggak terlahir dengan wujud seperti Teuku Rassya, saya nggak punya masalah sama sekali sama pertemanan, saya bisa temenan sama siapa aja baik itu laki-laki maupun perempuan. Sifat saya yang terbuka dengan orang lain ini membuat saya jadi punya banyak aktivitas tambahan selain belajar. Saya ikut banyak klub sampai akhirnya jadi penyiar remaja di salah satu radio swasta di Jogja, pencapaian yang menurut saya cukup membanggakan meski cuma berlangsung selama satu tahun. Setelah itu saya fokus ke seleksi penerimaan mahasiswa baru yang bikin saya makin nggak sempet mikirin soal penampilan, karena yang saya pikirin saat itu hanyalah bagaimana cara buat masuk ke perguruan tinggi sesuai yang saya inginkan. 

Selama kuliah saya juga memaksimalkan waktu saya untuk mencoba banyak hal baru, ambil pekerjaan sampingan buat nambahin duit jajan (yang sekaligus menjadi faktor utama penunda kelulusan), dan ikut kegiatan organisasi yang cuma bertahan di tahun pertama dan kedua kuliah saya aja. Ternyata, meski sempet jadi orang yang sangat insecure soal penampilan diri sendiri, saya bisa meraih beberapa pencapaian yang sebelumnya nggak pernah saya duga. Kuncinya adalah mengalihkan perhatian dari hal-hal yang nggak bisa kamu kendalikan. Kalau emang nggak ganteng atau nggak cantik, yaudah, bukan akhir dari dunia, kamu bisa mulai untuk melihat lagi lebih dalam ke diri sendiri dan menemukan apa yang bisa kamu maksimalkan selain penampilan.

Temen saya pernah bilang, kalo nggak cakep-cakep amat ya harus tau diri lah jadi pinter dalam satu bidang atau at least nggak males gitu, biar value yang kamu punya nggak sebatas penampilan fisik aja. Dan ini jadi salah satu hal mujarab yang bisa kamu terapkan kalau kamu punya insecurity sama bentuk badan atau penampilan kamu. Percaya deh, meski beauty privilege itu ada dan nyata, kalau kemampuannya nggak nyampe ya bakal tetep kalah saing.

No comments:

Post a Comment