02/09/2025

Long Distance Friends

Jadi ceritanya ada temen yang baru aja dapet offering untuk kerja di luar negeri, setelah sejak beberapa tahun yang lalu dia udah mengusahakan buat pindah ke luar negeri, akhirnya kesempatan itu dateng juga. I am genuinely happy buat dia, akhirnya apa yang dia usahakan dan dia impikan tercapai, dan tentunya terlepas dari beban pekerjaan yang nggak dia suka.

Di sisi lain saya agak sedih, karena akan ditinggal jauh sama salah satu temen deket. Temen dari jaman kuliah di Jogja, temen main kesana-kemari keluar kota, temen sambat sama hidup yang gitu-gitu aja, temen baik yang akhirnya bisa buka lembaran baru, lembaran yang semoga lebih indah dari yang sebelumnya.

Sekitar tahun 2021 saya juga melepas teman untuk pindah ke luar negeri, ikut suaminya. Sebelumnya, saya lupa tahun berapa, saya juga melepas teman untuk merantau. Pasti bukan pilihan yang mudah untuk pindah, meninggalkan semua yang akrab di telinga kita untuk sesuatu yang belum tentu kita suka. Tapi dewasa bukan hanya soal suka atau tidak, tapi soal bagaimana mendapatkan kehidupan yang lebih baik ketika yang dimiliki sekarang tak sesuai dengan hati nurani. Adaptasi itu masalah gampang, manusia akan bisa menyesuaikan diri bagaimanapun situasinya, kecuali memang takdir yang berkata lain.

Mungkin saya nggak suka perpisahan. Ada hal sendu yang nggak bisa diungkapkan pas kita berpisah dengan orang-orang yang sering kita temui, apalagi selalu ada sehari-hari. Saya tahu kami akan bertemu kembali, meski nggak bisa memperkirakan kapan hal itu akan terjadi.

Kepada teman-teman baikku yang saat ini sedang jauh, I miss you! Untuk teman baikku yang akan memulai petualangannya di tanah yang baru, good luck and I will be missing you!

26/05/2025

When You Want Something So Bad, But The Time Isn't Right... Yet!

Kita pasti sering denger "expectation kills" atau "if you don's expect something, you don't get disappointed" dan lain sebagainya. Emang bener, manusia harusnya cuma bikin rencana dan berupaya. Hasilnya gak perlu dipikirin, apalagi dipusingin. Saya ingin hal itu yang terjadi tiap kali saya kirim lamaran kerja, ya berusaha bikin lamaran sebaik mungkin aja, kalo dipanggil ya syukur, enggak juga gak papa. Tapi, saya cuma manusia biasa yang sekarang lagi harap-harap cemas. Umur udah nggak lagi muda tapi baru aja kehilangan pekerjaan, jadi mau-gak mau saya berekspektasi meski seringnya kecewa sendiri.

Ada lagi kata-kata yang nancep di pikiran adalah "rumput tetangga lebih hijau" atau "it's hard to see someone else living your dream". I really want a great job which pays me very well, punya uang yang cukup hingga bisa afford semua keinginan saya yang belum bisa kesampaian. Saya juga pengen kerja di luar negeri, di perusahaan yang bagus, atau kuliah lagi di luar negeri, punya pendidikan lebih tinggi. Tapi kayaknya semua keinginan saya bagai berada di langit yang tinggi, sementara saya ada di tanah dan nggak punya kemampuan buat terbang. 

Lalu ada kalimat "everything takes time" atau "semua indah pada waktunya". Mau percaya tapi tagihan cicilan terus jalan, nggak peduli kitanya ada pemasukan apa enggak. I need that indah now, I want the time to be fast-forwarded. 


Mungkin ada benernya kalo lagi gak ada kerjaan gini, carilah kerjaan itu sendiri. Kesibukan, maksudnya. Biar otak dan pikiran nggak random kemana-mana dan biar nggak kebanyakan ngelamun. Kesibukannya juga bukan nongkrong sana-sini dan nge-mall, karena yang ada bakal lebih banyak pengeluaran daripada manfaatnya. Kemarin jalan ke mall niatnya cuma makan siang di luar sama Ibu, ending-nya belanja dua buku di TM Bookstore. Kayak nggak ada buku yang belom dibaca di rumah aja tuh.

Beli sepatu sama baju olahraganya udah, tinggal niat olahraganya yang belom 'nendang'. Pikiran buat daftar gym udah ada, tapi trauma sama kisah 'jadi donatur' di dua membership sebelumnya. Beli walkpad bukan pilihan ya, soalnya mahal. Tapi membership gym juga jutaan sih. Ah bingung!

10/05/2025

Toxic Positivity(?)

Banyak orang kasih semangat setelah saya kena pengurangan karyawan, banyak yang kasih ucapan penuh dukungan supaya saya nggak putus asa pas kontrak kerja saya nggak diperpanjang, saya berterima kasih tapi sungguh sulit buat melakukan itu semua. Susah buat optimis dan berpikir positif. Saya lahir dan besar di keluarga yang nggak pernah mengajarkan saya buat jadi wirausahawan, begitu lulus dari pendidikan formal ya selanjutnya jadi karyawan, kerja di dunia formal. 

Jadi, ketika setelah selama lebih dari 10 tahun saya sibuk memeras tenaga dan otak untuk bekerja, lalu semuanya berhenti secara tiba-tiba, saya kayak kehilangan motor yang bikin saya bergerak selama ini. Okelah selama beberapa minggu awal saya bisa bersantai, menikmati masa idle dengan baik, setelahnya saya mulai digerogoti kecemasan.

Dalam hati dan pikiran yang nggak karuan, saya bertanya-tanya ada rencana apa dari kondisi saya saat ini? Apa yang bakal terjadi di masa depan? Satu bulan lagi? Satu tahun lagi? Sampai kapan saya harus menunggu? Puluhan, kalau nggak mau dibilang ratusan lamaran sudah saya kirim, tapi jawaban yang saya terima adalah penolakan, sisanya nggak ada kabar lanjutan. Kalau emang takdir saya bukan jadi karyawan lagi, jalan hidup yang kayak gimana yang bakal saya hadapi?

Beruntung masih punya teman-teman yang baik hati, masih mau kasih semangat dan afirmasi. Beberapa kasih informasi soal lowongan yang mereka tahu, tapi ya cuma bisa membantu sebatas itu, akhirnya balik lagi nasib yang menentukan.

Saya kira saya bisa mengalihkan semua pikiran dan tekanan ini dengan nonton bermacam-macam film atau series, tapi ternyata semua itu hiburan sesaat aja. Setelah selesai ya balik lagi bengong, meratapi nasib. Dalam sehari mungkin saya bisa kirim 3 sampai 5 lamaran, bahkan pernah 7 lamaran dalam sehari. Nggak capek kok, lha wong cuma tinggal klik-klik kirim sana-sini, cuma lama-kelamaan jadi rutinitas yang hasilnya belom bisa keliatan.

Selain berusaha buat terus-terusan cari kerja, salah satu cara yang menurut saya efektif untuk mengalihkan pikiran biar bisa terus waras adalah dengan menulis. Ini juga salah satu saran dari teman sih, katanya journaling mungkin bisa jadi pilihan biar nggak tambah stress, dan ternyata mujarab juga. Mungkin nggak seluruhnya terangkat ya, karena di hati ini masih ada yang mengganjal rasanya, tapi setidaknya apa yang ada di pikiran bisa tersalurkan.

09/05/2025

Socially in Accordance

In love with Miley Cyrus' single "End of the World". Pas dengerin lagunya kayak kena ke suasana hati dan kondisi kehidupan akhir-akhir ini.

Ngomong-ngomong soal akhir-akhir ini, sejak komputer lama saya hidup lagi (dan upgraded supaya bisa main Genshin Impact!), saya jadi punya akses ke foto-foto lama saya yang ternyata tersimpan dengan rapi dan teratur. Thanks to my late father yang udah keeping the files sedemikian rupa, sehingga sekarang saya bisa buka folder-folder lama dan tersadar bahwa dulu saya ekspresif banget. Saya suka foto-foto dan bikin video, dan menonton semuanya kembali bikin saya heran, ke mana perginya saya yang dulu?

Terus saya liat juga folder isi foto-foto jaman saya baru-barunya punya handphone berkamera, dari SMA sampai kuliah ternyata banyak banget foto yang saya hasilkan. Mulai dari selfie, foto grup, foto pemandangan, foto-foto gak jelas dan random, semuanya ada. Bahkan mengabadikan moment lewat video tuh bukan hal yang jarang. Mungkin karena kebaruan teknologi saat itu ya, jadi saya rajin foto sana-sini dan rekam video ini-itu. 

Apalagi sejak munculnya Friendster yang kemudian disusul dengan Facebook, kebiasaan upload foto-foto terkini jadi motor tersendiri yang bikin saya makin rajin jeprat-jepret. Waktu masih kuliah kan banyak tuh kegiatannya, ya nongkrong, ya organisasi, ya ikut kelas, banyak lah foto-fotonya.

Tapi lama kelamaan saya jadi malas berinteraksi sama media sosial, upload foto kalo habis liburan aja, bikin video kalo habis jalan-jalan, update status juga kalo ada yang menarik atau lucu. Saya jadi membatasi diri soal apa yang mau saya share di media sosial. Bagus sih, jadi nggak terlalu mengumbar masalah pribadi. Tapi namanya media sosial kan bebas aja ya, gimana yang punya akun, terserah yang punya password. Jadi kayaknya saya bakal lebih memanfaatkan media sosial sebagaimana mestinya: jadi ruang buat mencurahkan isi pikiran dan hati saya.

Kata temen, ya memang itu fungsinya media sosial. Kalo nggak nyaman pake akun sendiri, bisa bikin akun lagi buat nyampah di sana. Cuma, saya gak mau mubazir. Akun yang ada aja lah saya pake buat bikin celotehan. Bikin cerpen sekalian juga gapapa, bebas, suka-suka saya. Daripada makan ati sama memendam stress berlebihan, malah jadinya saya yang gila.

08/05/2025

A 2-Month Old Unemployed

Secara resmi udah dua bulan unemployed. Emang bener kata orang, nganggur itu enaknya cuma sebulan, lebih dari itu anxiety mulai menyerang, bingung mau ngapain, nggak habis pikir kenapa nggak kunjung dapet kerja, terus muncul pikiran-pikiran negatif di balik susahnya dapet kerja. Mungkin umur yang udah ketuaan, mungkin pengalaman yang nggak mumpuni, atau bisa jadi nggak beruntung aja.

Beberapa hari saya sempet nggak sadar lagi melakukan stress eating. Begitu sadar, berat badan makin ke nambah. Akhirnya coba atur emosi dan sadarkan diri kalo makanan nggak bisa jadi jalan keluar masalah, yang ada malah nambah-nambahin masalah. 

Hari-hari dilalui dengan bangun tidur, makan, liat lowongan, apply, berharap ada yang tembus, lalu ngabisin waktu streaming series ini-itu. Don't get me wrong, udah mencoba produktif dengan ikut tes TOEFL, dan sekarang berpikir buat ikutan les bahasa lain tapi biayanya lumayan buat pengangguran yang tabungannya nggak banyak kayak saya. Les French biayanya 2 jutaan per level (di lembaga bahasa UI), les bahasa Jepang biayanya 1,8 jutaan di lembaga yang sama. Levelnya nggak cuma ada 3, tapi bisa sampe 6. Bahkan belajar bahasa Jepang ada kategori les baca tulis dan conversation pula. 

Saya tau sih, kerja dengan sistem kontrak emang beresiko nggak diperpanjang kontraknya, tapi saya terlena. Akhirnya, kontrak selesai sebelum saya dapet kerjaan baru. Buat saya yang bisa sampai 7 tahun di satu pekerjaan dan perusahaan yang sama, saya nggak pernah menyangka kalo umur kepegawaian saya bisa cuma selama 3 tahun. Ternyata saya salah memilih kapal terakhir.

Selain terus-terusan apply sana-sini dan berharap bisa dapet kerjaan yang descent dengan gaji yang mencukupi, saya cuma bisa berharap saya nggak jadi gila. Udah terlalu sering saya merasa insecure sama diri saya sendiri, sekarang dihadapi dengan kenyataan bahwa saya harus nyebur ke bursa pencari kerja di usia yang bisa dibilang udah nggak muda. Mungkin kalo saya jadi businessman, usia saya tergolong muda, tapi untuk seorang job seeker saya udah tergolong bangkotan.

Tetap berpikir positif itu sulit, apalagi sekarang saya sedang di masa-masa yang rumit. Tapi yang saya bisa lakukan selain berusaha ya cuma itu, berpikir positif bahwa nanti bakal ada jalan terang dari hari-hari nyaris putus asa ini.