10/05/2025

Toxic Positivity(?)

Banyak orang kasih semangat setelah saya kena pengurangan karyawan, banyak yang kasih ucapan penuh dukungan supaya saya nggak putus asa pas kontrak kerja saya nggak diperpanjang, saya berterima kasih tapi sungguh sulit buat melakukan itu semua. Susah buat optimis dan berpikir positif. Saya lahir dan besar di keluarga yang nggak pernah mengajarkan saya buat jadi wirausahawan, begitu lulus dari pendidikan formal ya selanjutnya jadi karyawan, kerja di dunia formal. 

Jadi, ketika setelah selama lebih dari 10 tahun saya sibuk memeras tenaga dan otak untuk bekerja, lalu semuanya berhenti secara tiba-tiba, saya kayak kehilangan motor yang bikin saya bergerak selama ini. Okelah selama beberapa minggu awal saya bisa bersantai, menikmati masa idle dengan baik, setelahnya saya mulai digerogoti kecemasan.

Dalam hati dan pikiran yang nggak karuan, saya bertanya-tanya ada rencana apa dari kondisi saya saat ini? Apa yang bakal terjadi di masa depan? Satu bulan lagi? Satu tahun lagi? Sampai kapan saya harus menunggu? Puluhan, kalau nggak mau dibilang ratusan lamaran sudah saya kirim, tapi jawaban yang saya terima adalah penolakan, sisanya nggak ada kabar lanjutan. Kalau emang takdir saya bukan jadi karyawan lagi, jalan hidup yang kayak gimana yang bakal saya hadapi?

Beruntung masih punya teman-teman yang baik hati, masih mau kasih semangat dan afirmasi. Beberapa kasih informasi soal lowongan yang mereka tahu, tapi ya cuma bisa membantu sebatas itu, akhirnya balik lagi nasib yang menentukan.

Saya kira saya bisa mengalihkan semua pikiran dan tekanan ini dengan nonton bermacam-macam film atau series, tapi ternyata semua itu hiburan sesaat aja. Setelah selesai ya balik lagi bengong, meratapi nasib. Dalam sehari mungkin saya bisa kirim 3 sampai 5 lamaran, bahkan pernah 7 lamaran dalam sehari. Nggak capek kok, lha wong cuma tinggal klik-klik kirim sana-sini, cuma lama-kelamaan jadi rutinitas yang hasilnya belom bisa keliatan.

Selain berusaha buat terus-terusan cari kerja, salah satu cara yang menurut saya efektif untuk mengalihkan pikiran biar bisa terus waras adalah dengan menulis. Ini juga salah satu saran dari teman sih, katanya journaling mungkin bisa jadi pilihan biar nggak tambah stress, dan ternyata mujarab juga. Mungkin nggak seluruhnya terangkat ya, karena di hati ini masih ada yang mengganjal rasanya, tapi setidaknya apa yang ada di pikiran bisa tersalurkan.

No comments:

Post a Comment