04/02/2012

Me & Psychology





Kadang-kadang saya suka punya pendapat terlalu sok tahu kalau psychotest hanyalah sebuah tahapan yang mengawang-awang. Pardon me if it's insulting, bukan bermaksud untuk mengecilkan para psikolog atau calon psikolog di luar sana, lagipula pendapat saya bisa jadi salah. For the record, beberapa teman baik saya kuliah di jurusan psikologi. Beberapa diantara mereka lulus dan bekerja di luar ranah psikologi. Bahkan ada yang jadi pegawai bank.

Jadi begini, saya kenal yang namanya tes psikologi sejak SMA. Sampai tahun lalu saya masih menghadapinya. Pertama kali saya menghadapi psychotest adalah saat saya masuk ke masa-masa penjurusan di SMA. Satu angkatan diikutsertakan dalam tes psikologi untuk mengetahui minat dan bakat supaya bisa masuk ke jurusan sekolah yang (katanya) benar-benar pas dengan pribadi masing-masing. Emang bener sih, hasil psychotest saya menyebutkan bahwa saya cocok di kelas IPS, dan saya terbukti cukup sukses di kelas itu. Tapi beberapa teman saya yang terlalu percaya sama hasil psychotest lalu memutuskan masuk IPA pada akhirnya kuliah di fakultas ekonomika. Apakah hasil psychotest bisa berubah seiring dengan perkembangan pengetahuan seseorang? Saya butuh pencerahan di sini.

Lagi, saya yang waktu itu menjelang lulus SMA, diikutsertakan oleh orangtua saya dalam sebuah konseling dengan seorang psikolog di sebuah rumah sakit. Tujuan pada saat itu adalah agar saya bisa dengan tepat memilih jurusan untuk kuliah. Saya ingat konseling berlangsung dalam 3 kali pertemuan. Pertemuan pertama adalah wawancara, pertemuan kedua saya diminta untuk mengisi serangkaian tes psikologi 200 soal yang membosankan sekaligus beberapa tes dengan alat peraga. Pertemuan terakhir adalah saat dimana dokter akan mengeluarkan hasil dari rangkaian konseling tersebut.

Pada konseling terakhir, Bu Dokter menjelaskan kalo hasil tes saya membingungkan. Pada saat tes dengan alat peraga, hasilnya bagus. Lain dengan hasil tes dengan soal-soal repetitif, katanya jawaban saya nggak konsisten dan membingungkan. Bu Dokter secara dramatis memasang wajah khawatir dan mencoba mengorek alasan mengapa jawaban saya nggak memuaskan. Saya mau bilang kalau tes itu membosankan, jawaban nggak konsisten itu dikarenakan saya pengen cepet-cepet selesai lalu cabut dari rumah sakit, tapi demi mendukung wajah dramatis Bu Dokter saya menjawab: "akhir-akhir ini saya lagi banyak pikiran, Dok. Saya baru aja putus."

Sebenarnya saya emang baru aja putus, tapi bukan karena itu, beneran deh. Lha wong abis itu saya punya pacar lagi kok. Tapi Bu Dokter kayaknya menelan alasan itu, kayaknya sih langsung laporan sama orangtua saya. Iyalah lapor! Lha wong yang bikin appointment kan ayah saya.

Lalu, ketika tiba masa-masa dimana teman-teman saya jadi para pencari kerja, saya dapet bocoran kalau psychotest itu sebenarnya bisa diakali. Kalau nggak salah, salah satu trik ketika diminta menggambar pohon adalah: jangan menggambar pohon dengan cabang. Kabarnya, kalau menggambar pohon dengan banyak cabang ranting, hasil tes tidak akan bagus. Well, at that point, saya jadi tau kenapa beberapa tes beasiswa yang saya ikuti tidak berjalan dengan mulus. Lalu, cara menjawab soal-soal psychotest yang sampai 200 buah itu adalah: konsisten menjawab dengan jawaban yang sama untuk pertanyaan yang sama. Niscaya tes psikologi akan dengan mudah terlewati.

Lalu, ketika psychotest seperti ini bisa dicurangi, apa signifikasinya masih tinggi? Atau ada poin penilaian lain yang masih bisa diandalkan dari psychotest karena tidak bisa dicurangi sama sekali?

Entahlah. Lagi-lagi menurut saya, psychotest adalah cara sebuah perusahaan untuk bisa menaruh penilaian awal untuk para calon karyawannya. Menilai loyalitas, keahlian dan lain sebagainya. Pendapat saya bisa salah, maka dari itu tulisan ini hanya sebuah gambaran bahwa sejauh ini saya belum bisa mengetahui letak efektifitas psychotest mengingat tes itu bisa dicurangi.

[Tulisan ini dibuat berdasarkan pengaruh job fair yang sedang berlangsung di kampus yang ramai dikunjungi oleh para pencari kerja yang pasti akan terlibat dalam psychotest]

No comments:

Post a Comment