Saya mendengarkan radio sejak saya masih kecil, dari acara untuk anak-anak sampai acara remaja yang memutarkan lagu-lagu terkini pada saat itu. Saya jatuh cinta dengan imajinasi yang radio bawakan, saya jatuh hati dengan suara-suara yang menemani hari-hari saya. Sampai pada satu titik di mana saya bermain peran. Berpura-pura menjadi seorang penyiar radio.
Berpura-pura menjawab telepon dari pendengar (dari telepon rumah sendiri yang tentu saja nggak ada yang menghubungi), sampai pura-pura punya banyak pendengar dan membacakan banyak rikues.
I am a radio junkie, a listener that could stay for hours only to listen the announcers I like.
Sejak tahu kertas rikues dan phone live, saya nggak pernah nggak tertarik buat beli kertas itu di Yasika FM, radio swasta yang kantornya nggak jauh dari rumah, atau menghubungi 372025 saat kesempatan buat on air dibuka oleh si penyiar. Saya hapal semua nama penyiarnya, saya sering datang ke kantornya, kadang sama teman-teman, kadang sendirian saat sore menjelang malam. Cuma buat lihat penyiarnya dari ruang siaran yang bisa dilihat dari ruang penerima tamu.
Lalu, saat itu akhirnya tiba. Saat di mana saya menginjakkan kaki di dunia radio sebagai seorang penyiar.
Pas SMA, saya bisa dibilang anak yang kesana-kemari kalo soal ekstrakulikuler. Mulai dari klub teater, klub Bahasa Inggris, sampai klub Karya Ilmiah Remaja. Klub terakhir adalah penghubung antara saya dan dunia radio. Saya ingat diminta untuk membuat penelitian (yang kayaknya sih nggak selesai) tentang penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari oleh satu orang tertentu. Adalah Mas Gabe, debate trainer di SMA saya dulu, yang menjadi objek penelitian. Dia menggunakan beberapa bahasa dalam kesehariannya dan itulah yang saya teliti. Selama beberapa hari saya ikut kegiatannya mulai dari di kampus hingga ke tempat dia bekerja, yang mana adalah Yasika FM. Yes, dia seorang penyiar weekend.
Singkat cerita, saat saya lagi nemenin dia di kantornya, Mas Gabe bercerita tentang Yasika yang saat itu mencari penyiar remaja untuk siaran di acara sore hari. Tawaran disampaikan ke saya, dan tidak saya sia-siakan sama sekali.
Saya siaran di Yasika dari akhir kelas 1 SMA sampai ke akhir kelas 2 SMA (kalau nggak salah). Mengundurkan diri karena mau konsen ke Ujian Nasional yang menyita banyak waktu dan pikiran setelah sekian lama saya siaran, saya dirasa mengalami penurunan performa dan akan dilatih kembali. Kebetulan momentumnya pas menjelang Ujian Nasional, saya langsung mengundurkan diri.
Lalu, saat itu akhirnya tiba. Saat di mana saya menginjakkan kaki di dunia radio sebagai seorang penyiar.
Pas SMA, saya bisa dibilang anak yang kesana-kemari kalo soal ekstrakulikuler. Mulai dari klub teater, klub Bahasa Inggris, sampai klub Karya Ilmiah Remaja. Klub terakhir adalah penghubung antara saya dan dunia radio. Saya ingat diminta untuk membuat penelitian (yang kayaknya sih nggak selesai) tentang penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari oleh satu orang tertentu. Adalah Mas Gabe, debate trainer di SMA saya dulu, yang menjadi objek penelitian. Dia menggunakan beberapa bahasa dalam kesehariannya dan itulah yang saya teliti. Selama beberapa hari saya ikut kegiatannya mulai dari di kampus hingga ke tempat dia bekerja, yang mana adalah Yasika FM. Yes, dia seorang penyiar weekend.
Singkat cerita, saat saya lagi nemenin dia di kantornya, Mas Gabe bercerita tentang Yasika yang saat itu mencari penyiar remaja untuk siaran di acara sore hari. Tawaran disampaikan ke saya, dan tidak saya sia-siakan sama sekali.
![]() |
| Tessa, Salah Satu Temen Siaran di Yasika Sayangnya (dan Herannya) Saya Nggak Punya Foto di Studio :( |
Tapi semangat buat jadi penyiar nggak selesai.
Lulus SMA, saya masuk UGM dan mulai kuliah di tahun 2006. Sampai pas umur saya 19 tahun, saya denger ada lowongan penyiar radio di UTY FM, radio swasta yang nggak pernah saya dengerin sebelumnya (maaf buat Mas Androw dan Mbak Arin yang saya bohongin pas interview soal acara-acara di UTY FM :p). Saya nggak berharap, karena batas minimal usia penyiar yang dibutuhin pada saat itu di atas 20 tahun, jadi nggak ada ekspektasi apapun dari saya sampai akhirnya saya dipanggil buat wawancara.
![]() |
| Yep, That's Me! Di Callbox-nya UTY FM dengan Headset Warnet :)) |
Kurang lebih tiga tahun saya siaran di UTY FM, dengan berbagai naik dan turun kondisi radio pada saat itu. I had so much fun, dan belajar banyak banget dari pekerjaan saya itu. Oh, believe me, saya belajar sangat banyak. Mulai dari pekerjaan seorang penyiar radio yang ternyata nggak bisa main-main, sampai ke pelajaran hidup dengan drama-drama hidup yang nggak ada habisnya.
Saya bersyukur pernah jadi bagian dari radio kecil itu, tempat yang ngebentuk karakter dan kepribadian saya. Saya punya keluarga kecil di UTY FM, saya punya teman-teman yang sangat akrab kemudian tercerai-berai, saya keluar dari UTY FM dengan bekal banyak. Tapi tidak cukup banyak untuk menghentikan langkah saya sebagai seorang penyiar radio.
There's a gap year in my life, di mana setelah saya selesai siaran di UTY FM kemudian melanjutkan ke pekerjaan yang baru. Satu tahun saya konsentrasi penuh ke skripsi yang terlantar sejak lama, hingga saatnya saya merasa sanggup untuk melanjutkan perjalanan sebagai penyiar radio di rumah yang baru.
![]() |
| Kantor Swaragama FM |
Saya masuk Swaragama FM di awal tahun 2011, saya belum lulus, tapi skripsi sudah tahap final. Pertengahan 2011, bulan Juli, saya siaran pertama kali di Swaragama FM. Pertama kalinya ngerasain siaran jam 2 pagi, nahan ngantuk sampe jam 5, baru abis itu pulang terus hibernasi sampe siang. Begitu terus sampai akhirnya dapet masa probation. Dari September sampe November saya ada di bawah kontrak percobaan, diperpanjang sebulan karena telat siaran sekali. Akhirnya Januari saya resmi dikontrak jadi penyiar Swaragama FM.
Dulu, di UTY FM, saya udah pernah siaran di semua program acara. Target itu saya pegang di awal masa saya di Swaragama, tapi nggak kesampaian. Swaragama tempat yang lebih serius, tempat saya menempa diri lebih jauh, tempat saya dilihat berdasarkan potensi yang saya miliki secara maksimal. Senengnya saya di Swaragama, saya bisa ketemu banyak orang dan punya kesempatan buat interview dengan banyak tokoh. Dari Cinta Laura sampai Michael Learns to Rock, dari relawan dan aktifis sampai Puteri Indonesia.
Saya merasa berada di sebuah perusahaan yang terus bergerak maju, and believe me, I've changed so much. Menangani sebuah program, bikin event, sampe pada akhirnya jadi penyiar prime time pagi. Kejadiannya nggak cepat, tapi tau-tau udah 3,5 tahun saya di Swaragama FM.
Sampai akhirnya saya merasa cukup.
Total hampir tujuh tahun saya kerja di dunia radio, sebagai penyiar, pengalaman yang nggak bakal pernah saya lupakan. Pekerjaan yang berawal dari angan-angan, profesi yang tadinya hanya bisa saya bayangkan, sampai pada akhirnya saya berkecimpung lama di dalamnya.
Terima kasih, untuk semua pelajaran yang saya dapatkan dari pekerjaan sebagai penyiar. Terima kasih, untuk semua kerja keras yang berbuah pengalaman manis, pahit, asem. I'm not cocky, but Swaragama made me the big fish in the big pond. Bukan pekerjaan mudah buat jadi lebih baik di fase di mana kamu merasa udah jadi yang terbaik, dan Swaragama mampu bikin saya jadi orang yang berkembang. Maju.
Sampai kapanpun, radio bakal jadi denyut di tubuh saya, mengambil sebagian besar aliran darah saya, membuat saya hidup. Cinta saya kepada dunia radio nggak bakal berkurang. Terima kasih, radio, yang telah menjadi bagian dari hidup saya, dulu maupun nanti.
Saatnya mengejar mimpi yang lain.

.jpg)

Keren mas Akbar. Mimpinya jadi kenyataan :D Keren keren maksimal.
ReplyDeleteKak kalau pengen belajar siaran gt caranya gimana ya ? Aku pengen
ReplyDeleteKak kalau pengen belajar siaran gt caranya gimana ya ? Aku pengen
ReplyDelete