Beberapa orang bilang, jatuh cinta karena biasa. Ada lagi yang bilang, jatuh cinta pada pandangan pertama. Ada juga yang percaya, cinta jangan dicari, nanti pasti datang sendiri. Terakhir, reality show remaja tahun 2000-an awal yang berjudul 'Katakan Cinta' berpegang pada slogan yang cukup persuasif 'love will find you if you try'. Meski banyak aliran kepercayaan—dan kita bebas memilih untuk percaya yang mana, kita nggak pernah bisa tahu pasti bagaimana caranya untuk memulihkan diri dengan baik setelah putus cinta, patah hati, sakit karena cinta. After all, kita nggak pernah bisa berlatih untuk mempersiapkan diri menghadapi seluruh kondisi di atas.
Orangtua kita memberi makan, memastikan seluruh kebutuhan yang kita butuhkan ketika lahir di dunia ini hingga jadi dewasa terpenuhi. Lembaga pendidikan formal menempa kita dengan berbagai macam ilmu yang nggak semuanya bermanfaat di kemudian hari ketika kita 'nyemplung' di dunia kerja, belasan jam di sekolah setiap hari kita mempelajari hal-hal yang masuk akal sampai yang nggak bisa diterima dengan akal sehat. Kemudian kita mengambil jurusan kuliah yang 'sesuai dengan minat' agar kelak bisa bekerja di bidang yang kita sukai. Semua hal di atas kita lakukan semata-mata agar bisa bertahan hidup di dunia yang katanya keras dan terkadang kejam. Tapi, lagi-lagi, nggak ada satupun hal yang kita lakukan untuk mempersiapkan diri kita dalam menghadapi luka batin akibat putus cinta, patah hati, sakit hati.
Oleh dari itulah, manusia di bumi ini bereaksi berbeda ketika berhadapan dengan patah hati. Ada yang histeris, melewati fase denial, kemudian pelan-pelan bisa menerima kenyataan meski butuh waktu yang nggak sebentar. Ada yang bersikap santai, seakan-akan nggak terjadi hal yang serius, tapi begitu ada dorongan alkohol, dia jadi menangis tersedu-sedu. Tembok pertahanan runtuh. Ada juga yang memang benar-benar santai. Sedih, sih, tapi mau bagaimana lagi? Biasanya yang terakhir ini karena sebelum putus cinta memang sudah merasa bahwa hubungan sudah nggak bisa lagi diteruskan. Pilihannya adalah berpisah, nggak ada tawaran lain.
Menghadapi orang yang putus cinta juga nggak mudah. Bukannya nggak bisa sama sekali, tapi bisa jadi sangat tricky. Kita nggak pernah tahu seberapa dalam rasa cinta yang pernah ia miliki ke mantan, karena kita nggak merasakannya, kan? Kita cuma bisa memperhatikan. Pernah saya mengira seorang teman nggak cinta banget sama pacarnya (yang sekarang udah jadi mantan), eh kok pas putus terus nangis drama sampai sesenggukan. Saya, sih, bisa aja bilang seribu macam kalimat menegarkan yang bisa memotivasi dia supaya nggak nangis dan menyesali hubungannya yang telah selesai, tapi itu kan cuma kalimat yang berisi kata-kata.
Nggak mudah bagi seseorang untuk nurut sama kalimat seperti: "udah, nggak usah nangis, air mata kamu terlalu berharga buat menangisi orang yang nggak sayang sama kamu!"atau, "chin up! Nanti bakal dikasih gantinya yang lebih baik, jadi nggak perlu nangis lagi, ya!". Selayaknya kalimat himbauan, butuh waktu untuk bisa benar-benar memahami kalimat-kalimat tadi, hingga akhirnya benar-benar move on. Saya pernah makan waktu setahun untuk bisa completely mengasingkan perasaan saya kepada seseorang, mungkin ada yang butuh waktu lebih lama, yang jelas move on nggak bisa terjadi dalam waktu satu malam.
Sulit, bukan berarti nggak mungkin bisa dilakukan. Bangkit dari patah hati butuh keteguhan, beneran deh, banyak banget dorongan untuk terkoneksi ulang dengan mantan—apalagi kalau kita yang diputusin. Sembuh dari patah hati juga butuh support system yang baik, oleh karenanya banyak orang yang relying ke sahabat, keluarga, atau bahkan psikolog biar bisa tetap waras diterpa kesedihan bertubi-tubi yang kadang bergantian dengan kemarahan. Ada orang yang bisa mencapai titik 'capek sendiri' sama rasa patah hati itu lalu pelan-pelan bergegas melangkah ke depan. Melupakan rasa sakitnya dan minta maaf sama diri sendiri karena sudah sempat berlarut-larut dalam nestapa.
Selama matahari masih terbit di timur dan sehari masih 24 jam serta raga masih bisa berfungsi dengan baik, nggak ada alasan untuk diam di tempat dan menangisi kisah yang kandas. Putus itu salah satu jalan yang udah ditentukan, terima aja pelan-pelan meski nggak gampang. Nah, selagi mencoba untuk menelan kenyataan meski pahit, mari kita dengerin lagu berikut:
Semoga segera cukup kuat untuk melanjutkan urusan hidup lain selain masalah cinta, ya!
No comments:
Post a Comment