25/12/2019

Life As We See It

Semakin saya dewasa, atau bisa dibilang juga semakin saya tua, saya menyaksikan lebih banyak kejadian dalam hidup yang selama ini nggak terpikirkan oleh diri saya sendiri. Pas saya masih SMA, saya menyaksikan salah satu temen dikeluarin dari sekolah gara-gara hamil. Saya yang masih 15 tahun pas kejadian itu, nggak habis pikir bakal menyaksikan temen satu kelas tiba-tiba hilang, kemudian tiba-tiba muncul di depan sekolahan setelah dia lahiran. Enteng gitu ekspresinya pas ketemu saya dan temen-temen, cerita gimana proses lahiran dan cerita hal-hal lain yang nggak bisa saya ingat lagi.

Fast forward ke masa-masa kuliah, saya menyaksikan kejadian lain dalam kehidupan yang sama sekali nggak saya duga bakal terjadi. Orangtua saya jadi korban kecelakaan antara mini bus dengan truk. Saya masih inget banget gimana rasanya terima telepon dari Ayah (yang 'cuma' menderita luka ringan), bercerita lewat telepon bahwa travel yang ia dan Ibu tumpangi mengalami kecelakaan hebat dalam perjalanan pulang menuju Jogja. Ibu patah kaki, tidak sadarkan diri. 

Cerita dari Ayah berlanjut ketika saya dan kakak saya sampai di Tegal, tempat Ibu saya dilarikan untuk operasi besar, Ayah bilang tulang kaki Ibu patah jadi dua bagian, Ayah yang sempat membopong Ibu pasca kecelakaan sampai harus menaruh Ibu kembali karena kondisi kaki yang parah. Operasi di Tegal diikuti dengan operasi-operasi lain yang dilakukan di Jogja, serta perawatan di rumah sakit yang cukup lama. Syukurlah sekarang Ibu bisa sembuh, bisa berjalan lagi meski tidak sepenuhnya kuat berlama-lama jalan kaki.

Kejadian lain yang saya saksikan dalam kehidupan, adalah perginya Mamah untuk selama-lamanya. Mamah adalah adiknya Ayah, technically dia adalah tante saya. Dari kecil, saya sekeluarga sering pulang ke Indramayu untuk Lebaran bareng keluarganya Mamah. Sejak anggota keluarga masih komplit, sampai akhirnya kakek dan nenek meninggal dunia. Hubungan saya dengan Mamah jelas jauh lebih dekat daripada hubungan saya dengan kakek dan nenek. Mamah udah kayak ibu kedua buat saya, orangnya lucu, pintar mendongeng yang juga menjadikan ia pintar bercerita, pintar masak dan hobinya beliin saya, kakak saya, dan anak-anaknya makanan dalam jumlah yang banyak. Memastikan nggak ada yang kelaperan.

Tapi kesehatan Mamah nggak baik dan terus menurun gara-gara beberapa penyakit yang dideritanya, sampai pada suatu hari saya harus menjemput kakak sepupu saya di Bandara, untuk bersama-sama dengan dia dan satu lagi saudara saya ke Indramayu, menyusul Ayah, Ibu, serta keluarga kakak saya yang sudah lebih dulu di sana. Mamah meninggal dunia. Waktu saya terima kabarnya untuk pertama kali dari Ayah, perasaan saya sedih tapi masih bisa terbendung. Saat saya sampai Indramayu dan melihat Mamah sudah terbujur kaku di rumah dengan suasana ramai yang nggak nyaman, pertahanan saya bubar jalan.

Saya sedih, mungkin bukan yang paling sedih, tapi sangat sedih karena saya baru sadar fakta yang selama ini terlupakan: saya nggak bakal bisa ngobrol sama Mamah lagi, mendengar dia bercerita, atau sekedar melihatnya masak di dapur. Saya nggak bakal bisa mengalami hal-hal yang selama ini terkesan rutin dan enteng dengan Mamah, yang bisa saya lakukan adalah mengenang setiap hal yang pernah kami lakukan bersama, apa yang pernah ia kasih ke saya.

Mengemasnya sebagai memori bahagia yang juga membuat saya sedih dalam waktu bersamaan.

Menyaksikan kejadian-kejadian yang saya ceritakan di atas, membuat saya menganggap hidup bukan main-main. Sekaligus, membuat saya menghargai orang lain, karena apa yang mereka saksikan selama mereka hidup bisa saja jauh lebih berat ketimbang apa yang saya saksikan.

Kematian, kehilangan, patah hati, pindah keyakinan, hingga meninggalkan sesuatu yang besar untuk mengejar sesuatu yang realistis, adalah beberapa dari banyak kejadian yang saya saksikan dalam kehidupan saya selama 31 tahun ini. Meski kadang saya tak habis pikir dengan kejadian-kejadian yang saya saksikan (atau bahkan saya alami sendiri), saya yakin hal itu bertujuan baik. Agar saya punya lebih banyak amunisi untuk kejadian-kejadian serupa di masa yang akan datang, atau kejadian-kejadian baru yang saya belum tahu apa wujudnya.

Semoga saya, kita semua, bisa menjalani tahun 2020 dengan lebih baik.


No comments:

Post a Comment