Saya nggak inget tanggal berapa dan jam berapa, tapi salah satu temen kuliah saya ulang tahun. Saya nggak ngucapin. Nggak masalah, sih, toh temen saya juga udah banyak dapet ucapan dan saya cukup menyelamatinya dalam hati. Nah, di salah satu ucapan selamat ulang tahun yang dia dapet, ada salah satu ucapan selamat yang bikin saya berhenti pencet 'next' karena ucapan yang temen saya dapet adalah ucapan dari salah satu temen kuliah saya yang lain. Melihat ucapan itu di Instagram Story, bikin saya mengunjungi profile si teman yang memberikan selamat, melihat deretan foto liburannya di luar negeri, penampilannya yang super kece, terheran-heran dengan kehidupannya yang terlihat mapan.

Oh, man! It's so fucking hard not to be cynical. Nggak cuma melihat kehidupan teman saya itu, ya, tapi juga kehidupan orang lain di media sosial. Bikin inferior juga, apalagi melihat orang-orang yang lebih sukses padahal umurnya lebih muda dari saya. Meski demikian, saya juga sadar kok, kalau nggak semua yang dilihat di media sosial itu sesuai dengan kenyataan.
Saya jadi ingat, saya pernah deactivate akun Instagram selama seminggu (padahal rencananya mau selama-lamanya, ya, karena saya lagi kabur dari perasaan patah hati). Selama seminggu itu, saya merasa lebih enteng, lebih memperhatikan hal-hal yang terjadi di sekitar dan living the moment karena saya nggak sibuk mengabadikan hal-hal remeh ke dalam Instagram Story.
Media sosial juga ternyata punya efek samping, yang semua penggunanya harus tahu, bahwa media sosial bisa membuat ketagihan. Kalau menurut artikel dari Vice Indonesia ini, pengguna media sosial alias kita semua memang sudah terperangkap dalam candu yang sudah dirancang sedemikian rupa.
Sekarang, kita menggunakan Snapchat, Instagram, Facebook, ataupun Twitter karena satu harapan besar: barangkali orang lain bakal suka apa yang kita unggah. Kebutuhan kita terhadap pengakuan pengguna medsos lain—hal ini dialami pula miliaran orang di muka Bumi—telah menciptakan keterikatan kita kepada media sosial secara luar biasa.Sekarang, apa sih tujuan kita mengunggah sesuatu ke media sosial? Ya supaya kita dapat perhatian. Saya akui, saya juga begitu. Oh, here's my new phone. Oh, look at my lunch today. Hey, I have a lot of friends and I have a very great party without you. Kira-kira begitulah kalau mau memandang sinis setiap unggahan foto atau video ke Instagram.
Balik lagi ke saat saya nggak bisa tidur yang saya sebutin di atas, sambil menghela napas pendek, saya menyudahi kegiatan melihat kehidupan orang yang bikin saya nggak bersyukur sama hidup saya sendiri. Oh yes, media sosial juga bisa bikin penggunanya nggak bisa merasa puas dan nggak bersyukur dengan apa yang dipunya. Saya lalu ganti posisi, kemudian akhirnya terlelap.

No comments:
Post a Comment