02/05/2020

31 Hari Menulis: The New Normal

Barusan aja, kirim-kiriman pesan ke teman soal kondisinya beberapa hari belakangan ini. Dia bilang, dia hampir gila tapi kemudian menemukan kewarasan. Saya bilang ke dia, anggap aja apa yang lagi kita lalui ini the new normal, yang nggak tau kapan menjadi the real normal. Emang sih, selalu gampang berkata-kata daripada aksi nyata, tapi di saat-saat kayak gini kata-kata yang saling menguatkan bisa jadi obat waras ke orang-orang terdekat.


Saya kangen banget sama rumah, kangen orangtua, kangen sama kakak saya dan dua keponakan saya. Meski jarak kami semua nggak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan KRL, tapi keputusan buat nggak pulang ke rumah dulu selama pandemi bikin saya rindu setengah mati. Awal-awal sih biasa aja, toh saya paling sering sebulan sekali pulang ke rumah orangtua, tapi lama-lama saya gelisah juga.

Ternyata gini ya perasaan perantau. Saya sendiri dari kecil sampai lulus kuliah tinggal bareng orangtua, satu atap, sampai akhirnya saya masuk dunia kerja. Dulu, saya nggak pernah ngerasain kangen orangtua, bertanya-tanya mereka lagi apa, sehat apa enggak, karena ya tiap hari ketemu. Bahkan, dulu saya sering bosan ada di rumah, nggak merasa bebas, pengen cepet-cepet keluar dari rumah dan hidup sendiri. Eh, begitu kesempatan buat hidup sendiri, saya jadi merasa kesepian.


Tapi saya yakin ini yang terbaik, menyisihkan diri sementara waktu, agar nanti bisa kumpul kembali di masa depan. Saya, meski merasa sehat, sangat khawatir kalau saya menjadi carrier dari penyakit berbahaya. Coba bayangin kalau saya nekad pulang ke rumah orangtua, dan ternyata saya adalah carrier, orangtua saya bisa aja tertular penyakit. Mungkin saya nggak terjangkit penyakitnya, tapi orangtua saya yang punya imun tubuh yang berbeda bisa aja tertular.

Doa yang selalu saya gumamkan dan sekilas saya sampaikan saat lagi ngobrol sama temen-temen di kantor adalah, semoga semua ini segera berlalu. Dari lahir saya sama sekali nggak kepingin jadi saksi sejarah sebuah pandemi di dunia, tapi karena hal ini nggak terelakkan jadi ya hadapi saja. Semoga kita kuat, senantiasa sehat, sampai bisa dengerin pengumuman dari pemerintah kalau pandemi COVID-19 sudah berlalu dari negeri ini.

No comments:

Post a Comment