03/05/2020

31 Hari Menulis: Myanmar Appreciation Post—Bagan

Mumpung lagi libur, dan karena belom sempet bikin postingan soal jalan-jalan saya ke Myanmar tahun lalu, hari ini saya membulatkan tekad untuk membuat postingan soal Myanmar. Saya bikin terpisah antara ulasan soal Bagan dan Mandalay, dua kota yang saya kunjungi di Myanmar dalam liburan ambisius yang makan waktu 8 hari di bulan Juli 2019. Pertama-tama, mari kita ngobrol soal Bagan.

Bagan, atau juga dikenal dengan nama Old Bagan, adalah kota kuno yang jadi salah satu warisan dunia UNESCO. Menurut Wikipedia, Bagan dulunya ibukota dari Kerajaan Pagan di abad ke-9 sampai abad ke-13, sebuah kerajaan yang yang menyatukan wilayah sekitarnya yang kemudian membentuk Myanmar modern seperti saat ini. Banyak temen saya yang tanya, kenapa saya mau liburan ke Bagan, Myanmar, bukan ke tujuan lain yang lebih populer kayak Bangkok, Thailand, atau Kuala Lumpur, Malaysia. Jawaban saya tak lain dan tak bukan adalah karena pemandangan berikut ini:

Bagan After Sunrise
Yaa, kalo kamu cari di Google dengan kata kunci 'Bagan', pasti kamu bakal melihat banyak foto yang lebih menakjubkan. Foto pas sunset, sunrise, dan foto balon udara yang berjejer kayak di Turki. Waktu saya ke Bagan di bulan Juli, nggak ada sama sekali balon udara yang terbang. Tujuannya emang bukan cari pemandangan dengan balon udara, sih, ada alasan yang lebih personal kenapa saya ke sana di bulan Juli tahun lalu.

Meski demikian, Bagan berhasil bikin saya jatuh cinta, beneran deh, kehidupan di Bagan kayak balik ke tahun 90-an tapi dengan vibes yang positif dan energi yang membahagiakan. Makanan di sana juga enak-enak, dan yang terpenting biaya hidup di sana amat sangat terjangkau.

Sedikit soal itinerary, saya terbang dari Jakarta ke Myanmar lewat Kuala Lumpur. Beli tiketnya terpisah. Jadi saya bisa cari tiket Jakarta-KL pulang-pergi yang murah, kemudian cari tiket KL-Yangon dengan harga yang juga terjangkau. Saya merasa untung, seluruh tiket pesawat kisaran harganya 1,9 juta Rupiah. Plus, habis dari Myanmar saya masih punya 1 hari buat keliling KL.

Anyway, Bagan bisa diakses dengan beberapa pilihan kendaraan. Paling populer adalah bus malam. Saya yang berjiwa adventurous ingin berhemat ini memilih buat naik bus malam, berangkat dari Yangon malam hari, sampai di Bagan esok paginya. 

Bus Malam Yangon-Bagan
Suasana berbeda langsung terasa begitu bus yang saya tumpangi tiba di terminal Bagan. Suasana pedesaan. Udaranya segar, nggak banyak polusi karena kendaraan minim banget dan kebanyakan motor listrik.

Dari terminal ke penginapan, saya memutuskan naik bajaj, sampai di penginapan kepagian tapi ternyata pemilik penginapan baik hati banget. Saya dikasih minum, terus diijinin buat (very) early check in. Akhirnya saya beres-beres, lalu langsung eksekusi jalan-jalan pakai motor listrik.

Motor Listrik Mungil nan Perkasa
12,000 Kyat untuk satu setengah hari, pinjem jam 12 siang, dibalikin jam 8 malem buat di-recharge, terus dipinjem lagi jam 5 pagi keesokan harinya sampe malem. Meski kecil, kokoh juga buat menopang tubuh gendut saya, gak usah ngebut juga pakenya, karena mau ngejar apa coba di Bagan yang semuanya serba slow dan santai?

Tips yang saya bisa kasih buat keliling Bagan adalah, jangan skeptis sama orang-orang lokal yang nawarin diri buat jadi guide buat jalan-jalan di sana. Kalau bisa dapet harga jasa yang pantas, kenapa enggak ngasih kesempatan mereka buat ngajak kita jalan-jalan? Biar bisa dapet tempat bagus buat foto-foto dan juga menikmati indahnya pemandangan. 



Tips selanjutnya adalah jangan males nontonin pengalaman jalan-jalan orang lain lewat YouTube, karena ini yang saya lakukan sebelum berangkat ke Bagan. Jadi, saya bisa mempertimbangkan mana aja tujuan yang saya pengen capai pas udah sampe Bagan. Selebihnya, carilah hotel yang sesuai modal, kalau perlu yang paling murah tapi juga bagus. Karena, kamu ke Bagan buat jalan-jalan bukan buat menikmati fasilitas hotel seharian, tapi perlu diingat juga kalau kenyamanan perlu dipertimbangkan karena kamu nggak mau waktu istirahatmu terganggu oleh kamar yang nggak nyaman, yang ada setelah capek habis jalan-jalan malah jadi makin capek gara-gara hotel yang nggak nyaman.

  
Sebelum mengakhiri tulisan yang udah semakin panjang ini, beberapa foto di atas adalah hidangan yang sempat saya nikmati selama saya di Bagan. Foto pertama saya pesennya kari sapi, terus dihidangkan dengan berbagai condiment sebagai pelengkap seperti kuah sup, acar, sayuran dan lain sebagainya. Harganya terjangkau, cuma 2,500 Kyat udah dapet teh buat minum. Hidangan kedua adalah apa yang disebut orang setempat sebagai Chinese food, nasi goreng dengan campuran wortel, kacang polong dan buncis (saya nggak begitu suka buncis), rasanya biasa aja lebih enak Chinese food di Indonesia. Hidangan terakhir saya makan di The Moon, restoran vegetarian di Bagan yang ternyata cukup terkenal di kalangan pelancong. Saya lupa nama makanannya apa, tapi enak! Nggak kenyang, sih, tapi enak. ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

Total saya melewati waktu liburan di Bagan selama 2 hari 2 malam. Pagi ketiga saya cabut dari hotel, menuju terminal bus, melanjutkan perjalanan ke Mandalay. Ulasan soal liburan saya di Mandalay bakal saya bikin dalam tulisan selanjutnya, ya!

No comments:

Post a Comment