24/02/2022

After Seven Years, It's Not Even That Bad

Saya punya kecenderungan buat membanding-bandingkan hidup saya dengan orang lain. Lewat media sosial, saya membandingkan hidup saya dengan teman yang lebih sukses padahal masih seumuran, orang lain yang lebih muda tapi udah hidup enak (menurut standar saya), para pegiat media sosial yang saya nggak kenal tapi kayaknya punya banyak hal yang saya pengenin. 

Katanya sih, aktivitas membandingkan diri sendiri dengan orang lain dipicu dari keinginan untuk mengetahui bahwa diri sendiri tuh lebih baik daripada orang lain. Selain itu, katanya, perasaan yang nggak pernah cukup atas apa yang udah diraih dan dicapai selama ini bikin banyak saya sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

I know this isn't healthy. Saya jadi merasa (kata kasarnya) nggak berharga. Ngerasa kalo apa yang saya lakukan selama ini sia-sia. Nggak ada hal menonjol. Mungkin emang beneran saya nggak punya hal yang bisa dibanggain, atau standar sukses dan keren menurut saya adalah sesuatu hal yang ada di luar jangkauan. Jadi, mau gimanapun saya berusaha buat jadi sukses (menurut versi saya), yang ada ya cuma jadi usaha kosong aja.

Coba kalo melihat ke belakang selama hampir 7 tahun saya berkarir jadi jurnalis di Kompas TV. Awalnya saya jadi reporter lapangan, liputan berbagai peristiwa politik, sosial, budaya, ikutan dalam beragam peristiwa yang terjadi di Jakarta dan beberapa tempat di Indonesia (plus dua negara di Asia Tenggara). Sampai, kalo nggak salah, 3 tahun kemudian ditempatin di Istana Kepresidenan. Liputan agenda Presiden selama kurang-lebih 3 tahun, keliling Indonesia meski nggak semua tempat dikunjungi, menurut saya udah jadi pengalaman hidup yang nggak bisa dibilang biasa-biasa aja.

Saya juga punya kesempatan buat ketemu orang-orang yang nggak biasa. Orang-orang yang bagi sebagian orang cuma bisa dilihat di televisi, baca di koran, tau bagaimana wajahnya tapi belum pernah ketemu orangnya langsung. Saya punya kesempatan itu. Saya juga pergi ke tempat-tempat yang nggak pernah saya bayangin sebelumnya. Kamar mayat, rumah duka, dermaga, markas TNI, penjara, Istana Kepresidenan, dan tempat-tempat lain yang bikin saya bersyukur punya kesempatan yang nggak dimiliki semua orang.

Jadi, sebagai afirmasi, janganlah terus-terusan melihat kehidupan orang lain yang ditampilkan di media sosial. Karena pada dasarnya apa yang mereka tampilkan tuh yang terbaiknya aja, saya nggak pernah tau perjuangan atau cerita yang pernah terjadi di balik semua postingan yang indah-indah itu. Mungkin emang mereka kerja lebih keras dari saya dan bener-bener berusaha buat mewujudkan hidup yang mereka jalani sekarang, makanya mereka bisa jadi mereka dan saya jadilah saya.

Meski hidup ini nggak selamanya baik, nggak selamanya menyenangkan, tapi bisa jadi hidup yang saya jalani sekarang tuh adalah hidup yang terbaik buat saya. Bukan yang saya mau, jelas, tapi hidup yang ideal untuk saat ini.

No comments:

Post a Comment