Suatu hari, pas lagi berhenti di lampu merah Duren Tiga, saya liat dua remaja boncengan nggak pake helm, bajunya santai, naik motor sambil pegang handphone masing-masing.
Keduanya tampak biasa aja, masing-masing pegang handphone keluaran terbaru, itu juga sebenernya hal yang biasa aja. Tapi pikiran saya jadi menjauh, sampai mikir... berapa banyak duit yang seseorang harus keluarin buat seorang anak?
Mulai dari lahiran. Beberapa temen kantor sempet saling curhat soal biaya yang mahal, belum lagi pas hamil harus rutin cek ke dokter, vitamin, susu, denger-denger biayanya juga lumayan. Emang sih ada cara yang terjangkau, tapi bukan berarti nggak keluar duit sama sekali. Apalagi pikiran.
Terus ke pendidikan, gaya hidup, memastikan si anak tetap happy, ditambah sama hal-hal nggak terduga kayak kalo misalnya si anak sakit, harus pindah sekolah karena kerjaan orang tua yang juga pindah.
Terus, kalo pisah sama anak tuh pasti sedih kan ya, udah belasan (atau bahkan mungkin puluhan) tahun hidup di satu atap, akhirnya si anak harus pindah tempat tinggal karena lanjut pendidikan di luar kota, atau kerja di kota yang berbeda.
Belum lagi kalau umur si anak nggak lebih panjang dari orang tuanya.

Kemudian saya juga mikir, nggak semua anak lahir dan hidup dengan baik di tengah-tengah keluarga yang komplit. Butuh waktu lama buat saya sadar kalo nggak semua anak punya orangtua yang lengkap, nggak semua anak lahir di tengah-tengah keluarga yang hangat, nggak semua anak punya orangtua yang mampu bikin mereka jadi anak-anak yang bahagia.
Saya baru kenalan sama temen-temen yang berasal dari keluarga yang nggak komplit pas saya masuk SMP, mungkin pas SD ada tapi saya nggak inget. Tapi pas SMP-pun, saya nganggep hal itu biasa. Maksudnya, saya belom sadar kalau di dunia ini ada anak yang terpaksa tumbuh besar di lingkungan tanpa ayah atau tanpa ibu, atau bahkan tanpa keduanya.
Belum lagi ada anak-anak yang terpaksa hidup di jalanan, sampai larut malam masih di perempatan lampu merah, atau diajak keliling orangtuanya pakai gerobak, padahal mereka harusnya di rumah aja, banyak-banyak main dan belajar sama temen-temennya.
Saya jadi paham kenapa ada orang di dunia ini yang memilih buat adopsi ketimbang punya anak sendiri, dan saya juga jadi paham kenapa ada orang yang memutuskan buat nggak punya anak sama sekali.
Semoga anak-anak yang lahir di dunia ini bisa mendapatkan kebahagiaan mereka masing-masing, meski dengan cara dan sumber yang berbeda.
No comments:
Post a Comment