07/06/2023

Dear Friends

Saya merasa punya banyak kenalan, teman cuma beberapa. Biasanya yang saya anggap temen deket adalah mereka yang udah bertahun-tahun kenal sama saya, jalan bareng-bareng di luar kewajiban (misalnya: kerjaan dan lain sebagainya), dan curhat-curhatan soal hal yang paling dianggap pribadi. Hal-hal yang bahkan (mungkin) gak dikasih tau ke orangtua kami masing-masing. Curhatan temen baik tuh mencakup cinta, kekhawatiran soal masa depan, sex, kebencian kepada orang tertentu, keluhan soal kerjaan, keluarga, dan macem-macem lainnya yang bisa panjang kalo dijelasin dalam tulisan ini.

Tapi menurut saya, status 'temen deket banget' baru bisa di-klaim kalo kita udah bisa curhat soal kondisi kesehatan. Ketika kita udah bisa cerita sisi vulnerable-nya kita ke orang lain. 


Pertama soal kesehatan mental. Ada temen saya yang cenderung labil emosinya, with a background of a broken home, seringnya dia melampiaskan kesedihan atau hal-han yang bikin dia terganggu dengan self-harm, merusak barang-barang miliknya, kabur. Untungnya dia sekarang udah sadar kalau dia butuh bantuan, dia dapet bantuan profesional. Punya temen kayak begini bikin saya ekstra mikir buat menghadapinya, nggak jarang saya bingung sendiri gimana caranya approach dia tanpa ada tendensi mengecilkan apa yang lagi dia alami.

Kedua, ada temen yang kenal penyakit menular seksual yang nggak bisa disembuhin. Dia nggak tau tertular dari siapa, cuma bisa menduga-duga. Pertama kali denger pengakuannya, saya speechless. Saya nggak tau harus ngomong apa, saya ngerasa sedih sekaligus nggak bedaya buat bantu kondisinya. Terus dia bilang, dia cuma mau cerita biar at least ada temennya yang tau kondisinya dia gimana. Sepengetahuan saya, orang bisa hidup berdampingan dengan penyakit itu, tapi bukan tanpa ancaman. Dia bisa aja collapse kalo terinfeksi penyakit lain, karena imun tubuhnya udah bekerja keras, jadi kalo ada virus lain yang masuk ke badannya dia bisa aja tumbang. 

Ketiga dan yang baru-baru ini terjadi, temen saya punya masalah sama penglihatannya. Pendarahan internal bikin matanya cuma bisa melihat sekian persen. Update terakhir dari dia, dokter menduga hal-hal yang bikin saya literally nangis. Pendarahan yang bikin penglihatannya terganggu diduga akibat tumor atau kanker, meski kemungkinan itu masih perlu penyelidikan lebih lanjut. I cannot bear with the fact that, temen saya dihadapkan oleh penyakit yang bisa bikin dia kehilangan penglihatan. Bahkan kehilangan nyawa. Mengetahui fakta ini, saya yang suka overthinking langsung ngebayangin skenario terburuk. Di sisi lain, saya nggak bisa berbuat banyak kecuali kasih semangat ke dia, kasih afirmasi positif kalo semuanya bakal baik-baik aja, padahal saya nggak tau apa-apa. Saya nggak tau, apa iya semuanya bakal baik-baik aja?


Keterikatan kita sama temen, bagi banyak orang, lebih erat daripada sama keluarga. Ada istilah kalo temen deket tuh ibarat extended family, keluarga yang kita pilih, tempat kita berbagi hal-hal yang sungkan untuk diceritakan ke saudara atau orangtua. Apa yang kita lakukan bisa jadi lebih berarti daripada apa yang dilakukan oleh keluarga sendiri. Bagi saya, temen-temen saya di atas yang sekarang lagi menghadapi their own battle merupakan orang-orang yang saya sayangi seperti keluarga saya sendiri. Sedih ketika mereka nggak ada, ketika saya harus kehilangan mereka, bakal sama sedihnya kalo saya kehilangan keluarga.

I can only hope that they're successfully win their battle, gloriously. And I hope that I can be one tiny light that can make their life brighter, even just for a little bit, to support them throughout the journey to freedom, whatever freedom means. 

No comments:

Post a Comment