18/06/2011

The Edge of Confusion

Sebut saja namanya Atira. Perempuan 24 tahun, pegawai negeri sipil yang sedang mencari jawaban dari pertanyaan seperti: "kapan nikah?" Dia satu-satunya perempuan yang saya kenal yang merasa risau dengan pertanyaan itu. Pacar udah ada, tapi pelaminan masih jauh.

Ngomongin soal pernikahan, kakak saya pernah nggak yakin sama pernikahannya h-30 sebelum akad nikah. Dia bilang: "aku nggak pernah tau apa yang bakalan terjadi di masa depan, nggak ada yang bisa menjamin pernikahanku bakalan baik-baik aja. Meskipun aku nggak pernah berharap untuk memiliki pernikahan yang gagal, aku juga harus tau kalau resiko itu bukannya nggak mungkin terjadi."

Ah, jadi sedih.

Kalau memang resiko yang diambil sangat besar, mengapa banyak orang memutuskan untuk mengambil beberapa pilihan rawan dalam hidup mereka? Contohnya pernikahan.
Saya suka melihat kebahagiaan orang lain, mereka terlihat sangat indah saat berada dalam mode bahagia. Saya bahagia ketika melihat beberapa teman saya yang telah dengan bahagia melangsungkan pernikahan mereka. Seakan-akan mereka menjadi pemenang.

Tanggungjawab setelah menikah juga besar. Sangat besar. Membina keluarga yang solid, menghidupi anak yang caranya tidak mudah, apalagi dengan biaya dan waktu untuk menjaga beberapa kepala untuk tetap jadi satu. Nggak mudah.

Menurut saya, mereka berani untuk mengambil pilihan rawan dalam hidup karena mereka ingin naik level. Untuk memiliki pribadi yang lebih kuat, melawan segala kekhawatiran mengenai ide dari 'pernikahan' itu sendiri. Kualitas diri jadi bertambah, hidup menjadi lebih mudah karena bisa ditaklukan.
Saya nggak mau mikirin nikah, saya sendiri masih nggak paham sama ide itu. Menurut saya, alasan-alasan seperti meneruskan generasi dan lain sebagainya bukan landasan kuat untuk menikah. Saya mau tunggu sampai saatnya saya tau bahwa menikah adalah hal nomor satu yang saya inginkan di dalam hidup ini. Sampai saat itu tiba, mari selesaikan skripsi dulu. *tetep*

4 comments: