04/08/2011

The Self-Centered Human


Orang jaman dulu pernah bilang, hidup itu bagaikan medan perang. Kamu harus punya strategi untuk hidup kalau mau bertahan dan menjadi pemenang. Kamu harus punya banyak akal biar kamu nggak kalah perang, biar kamu nggak dibunuh lawan.

Beberapa orang jaman dulu lainnya bilang kalo hidup ini hutan belantara. Kamu harus punya banyak bekal biar bisa bertahan hidup biar nggak mati kelaparan. Kamu harus punya pengetahuan banyak tentang isi hutan rimba biar kamu nggak mati sia-sia dimakan singa atau buaya.

Orang jaman dulu sudah memperingatkan kita. Hidup itu adalah hal yang berbahaya.

Manusia, mau nggak mau, bisa dibilang 'kecemplung' ke dalam kehidupan yang sebenernya bisa dinikmati dengan damai dan sentosa. Kalau saja Adam dan Hawa nggak makan buah terlarang, kita bakalan berkembang biak di surga (kalau keberadaan surga itu emang bisa dipercaya). Sayangnya, cerita yang membahagiakan kayak hidup di surga itu cuma berhasil dituangkan di atas kertas, jadi buku dongeng. Manusia akhirnya harus punya usaha ekstra biar bisa bertahan di dalam hidup yang berbahaya itu.

Dalam hidup yang berbahaya ini, saya percaya bahwa setiap manusia di dunia ini pasti melakukan segala hal dengan alasan. Latar belakang. Motif. Apapun itulah.
Nah, mari menyebut mereka yang melakukan segala sesuatu dengan latar belakang demi keuntungan diri sendiri sebagai manusia egois.
Menurut saya, salah satu tipe manusia yang akan bertahan hidup lebih lama di dunia yang berbahaya ini adalah para manusia egois. Kenapa? Karena otomatis orang-orang egois tersebut hanya akan melakukan hal yang memberikan keuntungan kepada dirinya. Keuntungan-keuntungan yang mereka dapatkan akan membantu mereka untuk bertahan hidup lebih lama.

Saya bukannya membenci orang-orang egois. Saya nggak bilang itu nggak baik, menjadi egois menurut saya sah-sah aja. Bahkan dianjurkan. Sekarang, selain dirimu sendiri, siapa sih yang bisa menjamin kebahagiaan untuk dirimu? Siapa sih yang sudi repot-repot menjamin kelangsungan hidupmu selain dirimu sendiri? Bahkan orangtuamu sendiri berharap kamu secepatnya mandiri, supaya nggak terus-menerus bergantung sama bapak dan ibu.

Nah, menjadi egois-pun ada tata caranya. Jangan sampai kamu terlihat egois. Jangan sampai orang sadar kalau kamu hanya melakukan hal-hal yang menguntungkan bagimu. Pikirlah secara matang.
Sebagai contoh: kamu pindah ke sekolah baru dimana kamu nggak berteman dan merasa terasingkan. Saya, sebagai manusia egois, akan menraktir salah 3 dari orang yang saya kenal pertama kali di sekolah baru tersebut. Tentu saja ini ada motifnya, biar saya dikira orang yang murah hati, sekaligus membentuk jaringan sosial. Untung buat saya kan?

Sekali lagi, jadilah orang egois yang pintar supaya bisa bertahan di hidup yang berbahaya ini. Nggak ada yang bisa menjamin akan ada orang yang bakalan menolongmu ketika kamu terjebak dalam sebuah masalah. Anggap aja kamu sendirian di dunia ini, gunakanlah semua kemampuanmu untuk bertahan hidup sendiri. Lakukan semua hal yang menguntungkan bagimu, tinggalkan yang membuatmu rugi.
Tanyakan pertanyaan ini kepada diri sendiri sebelum melakukan hal apapun: "apa untungnya buat saya?"

Kalo ada ya dilakukan, kalo enggak ya ngapain?

No comments:

Post a Comment