18/02/2013

Shift

Saya inget banget pas saya masih sekolah, hal yang paling bikin saya takut adalah menghadapi ujian. Entah itu ujian harian atau ujian akhir. Saya tipe murid yang pintar jika mau belajar, well, semua murid kayaknya ya begitu, tapi saya juga termasuk tipe murid yang malas untuk menguji kemampuan yang saya miliki dalam sebuah ujian. Siapa sih yang enggak? Kalau boleh milih, mending semua materi diajarkan tanpa ada pengukuran sejauh mana kita memahaminya kan?

Sekarang, setelah terakhir kali saya menghadapi ujian, which was ujian skripsi, saya nggak pernah merasa selelah ini menghadapi ujian lain yang selama beberapa minggu terakhir ini saya hadapi: ujian masuk kerja. Saya menganggap seluruh proses (sejak seleksi berkas, tes psikologi, hingga wawancara) adalah satu kesatuan yang melelahkan. Terlebih lagi ketika semua berujung pada muara yang sama: kegagalan. Siapa sih yang nggak benci sama kegagalan? Kita sudah menganggap bahwa apa yang kita lakukan sudah yang terbaik, but what's the best from us apparently not good enough for other people.

I'm hitting a place where there's almost no faith in happy ending. Too much pressure, too much failures. Saya sampai pada masa dimana saya mendengarkan dengan sinis lagu-lagu berisi motivasi untuk tetap berusaha meskipun berkali-kali berhadapan pada kegagalan.

Saya tau kemana semua ini akan membawa saya selama beberapa waktu ke depan. Memikirkan berulang kali dan mencoba mencari jawaban apa yang salah, mengaitkan apa yang terjadi di masa lalu dengan apa yang saya alami sekarang. Ya, saya se-insecure itu.

No comments:

Post a Comment