02/09/2016

Hate/Love Relationship

Dulu, by dulu I mean a very long time ago, seorang teman pernah bilang, bahwa kita nggak perlu alasan buat membenci seseorang. Sama kayak cinta, teman saya bilang, rasa benci itu punya caranya sendiri buat bekerja di dalam tubuh. Sudah ada penelitian yang bilang kalau cinta itu reaksi kimia yang memengaruhi otak, sehingga kita bakal merasakan hal yang berbeda ketika kita bertemu dengan satu orang tertentu. Begitu pula dengan benci. I guess...

Saya pikir teman saya ada benarnya, tapi nggak 100%.

Ada teman lain yang percaya betul soal aura, terutama yang berkaitan dengan rumah makan dan manusia. Kurang lebih cara kerjanya sama, ketika melihat rumah makan yang tidak nyaman, kumuh, terkesan suram, bisa dipastikan makanan yang dijual jauh dari kata enak. Kalau manusia, ketika seseorang tertentu hadir dan kamu merasa nggak nyaman, mungkin auranya nggak cocok.



Ada yang bilang, nggak adil kalau kita membenci orang lain cuma karena first impression. Lalu, bagaimana dengan love at first sight? Lagi-lagi teman saya punya rumusnya.

Ketika kita merasa tertarik dengan orang lain melalui pandangan pertama, sebenarnya itu bukan cinta. Itu nafsu. 😜
Cinta tidak bisa dibangun hanya dengan pandangan mata, ada proses yang bisa membangun perasaan cinta. Hal inilah yang kemudian juga berlaku untuk perasaan benci.

Jadi, jika suatu saat nanti punya kesempatan untuk bertemu dengan orang yang tidak membuatmu nyaman, mungkin itu karena ada tembok besar tinggi dan tebal yang menghalangi aura kamu dan dia untuk menyatu. Mungkin butuh waktu untuk mencairkan suasana, mengenal satu dengan yang lain, mencari tahu apa yang membuat tembok itu muncul saat pertama kali kalian bertemu. Bukan tidak mungkin pada akhirnya tembok berhasil dikalahkan, dan kalian menjadi akrab dan tak terpisahkan. Ada ungkapan 'dari benci jadi cinta', kan?

No comments:

Post a Comment